Bab 2

Di suatu ruang tamu, di sebuah rumah bertingkat dua, berlahan kira-kira 200-an meter persegi, tampak kedua pria sedang berjabat tangan.

“Ilham”

“Saya Adin, adiknya Lia. Silakan duduk”

Mereka berdua duduk. Suasana kembali sunyi. Dan juga, canggung. Ilham memberanikan diri memecah kekakuan.

“Kalian, cuma dua bersaudara saja?”

“Iya, cuman tinggal kami berdua saja. Kak Ilham jarang nonton tivi ya?”

“Emm, jarang sih.” kata Ilham sambil menggeleng

“Orang tua kami meninggal 2 tahun lalu. Saya masih kelas 3 SMA. Kereta yang mereka tumpangi terguling saat menuju Jakarta. Kak Lia saat itu masih semester 6. Kak Lia cuti kuliah untuk membiayai kami berdua. Setelah saya lulus, kakak memaksa melanjutkan kuliah. Saya gak mau. Kakak cuma tinggal skripsi saja. Harusnya dia yang lanjutin sampai lulus. Orang tua kami masih punya cukup tabungan untuk bayar SPP. Kak Lia gak mau. Untunglah waktu itu ada audisi Penyintas Terakhir. Kakak menang, sebagian uangnya untuk DP rumah ini. Sebagian untuk modal saya sewa lapak elektronik di Glodok”

“Glodok masih laku kah?”

“Masih, lumayan kok. Walaupun akhir-akhir ini lebih banyak pesanan online. Tapi, ngambilnya tetep dari lapak saya di Glodok.”

“Adin, tinggal di sini juga kah?”

“Oo, nggak. Saya lebih suka rumah kami yang lama. Banyak kenangan di sana. Pas beli rumah ini, kakak nggak bilang-bilang dulu sama saya. Katanya, rumah kami yang lama mau dijual saja. Saya disuruh tinggal di sini sama kakak. Katanya di sini ke mana-mana deket. Tapi saya males. Rame dan sering macet. Jadinya malah kebetulan. Besok kalian di sini berdua saja.”

Ilham hanya bisa manggut-manggut. Sejenak kemudian, ia bertanya lagi

“Kakakmu tinggal di sini baru juga kah?”
“Mayan sih. Ada kalau 6 bulan”

“Belum lama ya…”

“Yah, nggak terlalu.”

Tok… Tok… Tok… Terdengar suara ketukan yang teratur. Rupanya, itu suara hak sepatu perempuan yang berbenturan dengan anak tangga. Seorang perempuan berjilbab, berkebaya putih, berkain batik menuruni anak tangga. Jilbabnya berhias renda dan bunga melati, membuatnya tampak makin agung, bagaikan seorang ratu.

“Kalian lagi ngobrolin apa?”

“Oo nggak. Cuma ngobrol biasa aja. Soal kakak sama aku. Iya kan, kak Ilham?”

Ilham tidak menyahut. Pandangannya masih mengarah ke Lia yang sedang tersenyum manis.

“Kak?” kali ini Adin menyentuh tangan Ilham

“Eh, .. apa? Oh, iya …” Ilham asal jawab saja

“Kak Lia cantik ya?” Adin berbisik kepada Ilham

“Iya. Eh, bukan.. Maksudnya…”

Adin langsung memotong

“Nah, gini ini cari suami. Nggak kayak laki-laki itu.”

Lia memberi tanda, menempelkan telunjuknya ke mulutnya. Adin pura-pura tidak peduli.

“Kakak masih menemui dia?”

“Nggak. Kami sudah putus.” kata Lia sambil memalingkan muka.

“Baguslah kalau begitu. Kita masih nunggu apa lagi nih?”

“Deri sama orang KUA belum datang.”

“Bentar lagi juga nyampe”


“Saudara Ilham Prasetya bin Sutarno, saya kawinkan engkau dengan Amalia Jamila Hasana binti Cecep Syaifullah dengan maskawin seperangkat alat sholat, dibayar tunai.”

“Saya terima nikahnya Amalia Jamila Hasana binti Cecep Syaifullah dengan maskawin di atas dibayar tunai”

Begitulah mereka berdua menikah. Memangnya, menikah mau gimana lagi? Cuma begitu doang. Dua kalimat selesai. Menikahnya beneran, tanggalnya bohongan. Tinggal bersama beneran, tapi saling mencintainya bohongan. Ya, paling tidak, itu menyelesaikan masalah mereka saat ini. Entah nanti.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Ada 43 panggilan tidak terjawab di HP Lia. Semuanya dari Dimas. Ada juga 137 pesan tak terbaca dari orang yang sama. Lia berusaha tenang, namun tidak bisa. Semenjak siang tadi, selepas konferensi pers, Dimas secara bertubi-tubi membombardir HP Lia.

“Lia, apa kamu punya pembantu?” Ilham bertanya

“Emang kenapa?”

“Rumah ini kan besar. Gak mungkin kan kalau kamu bersihin semuanya sendiri?”

“O, kalo itu ada bu Sinta yang tiap weekend bantuin bersih-bersih rumah ini.”

“O, gitu. Kalau tiap hari yang masak siapa?”

“Aku suka masak sendiri.”

“Tapi, hari ini kamu belum masak apapun. Bahkan masak nasi pun nggak. Kamu nggak laper?”

“Oh, jadi maksudnya kamu ngomong muter-muter itu sebenarnya minta makan? Ngomong aja langsung kenapa?”

“Bukan gitu maksudnya. Karena kamu belum masak, artinya malam ini kita delivery aja. Kamu mau apa?”

“Aku gak lapar. Kamu pesen aja sendiri.”

“Yakin nih?”

“Iya” jawab Lia kesal

“OK. Kalo gitu aku pesen 2. Entar yang satu aku taruh kulkas. Siapa tahu kamu mau”

“Terserah. Aku mau tidur. Capek”

Lia beranjak menuju kamarnya.

Ilham memegangi layar hapenya, memandangi sebuah pesan, “Nak, ibu mau ketemu mantu ibu. Sabtu besok datang sama isterimu ke Cilacap. Ibu tunggu”. Ilham bingung bagaimana harus menyampaikan hal ini kepada Lia.

Waktu menunjukkan pukul setengah empat. Ilham baru mau masuk ke kamarnya selepas dari toilet. Ketika melewati ruang tengah, tampak lampu masih terang. Lia masih belum tidur? Ilham menghampiri Lia. Tampak di meja, kertas berminyak pembungkus nasi, dan remah-remah ayam goreng crispy. Rupanya, Lia lapar juga. Pake gengsi segala, batin Ilham.

Namun, bukan itu yang aneh. Lia sepertinya sudah selesai makan dari tadi. Sepertinya, dia juga sedang menonton TV. Tapi, pandangannya kosong. Lia melamun.

“Katanya gak mau makan. Capek, mau tidur gitu tadi…”

Lia terkaget sebelum menjawab pendek,

“Laper”

“Kamu belum tidur?”

“Nonton TV dulu. Sambil ngilangin stres”

“Oh, OK. Aku tidur dulu.”

Ilham berjalan menjauhi ruang tengah

“Eh, Ham, tunggu dulu!”

“Ya, ada apa?”

“Kamu bisa ngeblok nomor HP nggak?”

“Bisa aja. Gampang itu. Coba mana?”

Lia menyerahkan HP-nya

“Ini, Aa Yayang ini?” tanya Ilham sambil menahan senyum sinisnya.

“Iya” jawab Lia tanpa mau menoleh kepadanya.

“Pacar kamu namanya siapa?”

Lia diam saja tidak menjawab

“Kamu belum putus sama dia kan?”

Lia masih saja menutup mulutnya.

“OK. Selesai. Dia mempermainkanmu dan kamu masih saja melindunginya. Apa untungnya buat kamu?”

Lia tetap membisu.

“Aku tidur lagi ya. Kalo ada apa-apa, nanti bangunkan aku.”

“Tunggu!”

“Apa lagi?” kata Ilham setengah kesal

“Dia ngechat juga di facebook aku”

“Terus, tinggal di unfriend aja kan?”

“Twitter juga”

“Terus, kamu pengennya gimana?”

“Aku pengennya dia berhenti”

“Datengi aja rumahnya, suruh dia berhenti.”

“Tidak bisa Ham.”

“Terus gimana dong?”

“Kamu bisa nge-hack dia gitu nggak?”

“Gak bisa lah. Mentang-mentang orang IT terus bisa ngehack gitu?”

“Tapi, adikku aja dia bilang bisa ngambil saldo e-wallet punya orang.”

“Beda lagi non. Itu namanya phishing.”

“Ya terserah mau fising, mau hacking, yang penting dia gak ganggu aku lagi.”

Ilham kehilangan kata-kata untuk meyakinkan perempuan keras kepala ini.

“Tolong dong, pliis. Masa anak IT kalah sama lulusan SMA?”

Ilham merasa gengsinya tertantang

“OK. Kasih aku waktu seminggu. Aku bikin dia nggak ganggu kamu lagi.”

“Thank you Ilham” Akhirnya wajah Lia bisa berseri setelah semalaman

Pagi harinya, Ilham meringkuk di kamarnya. Di depan laptop tentu saja. Semenjak ditantang Lia dini hari tadi, dia tidak bisa tidur. Dimulailah peperangan melawan pacar Lia di dunia maya. Tapi, tunggu dulu, nama pacar Lia siapa ya? Ah, tidak masalah, pikir Ilham. Sejurus kemudian, browser-nya mengunjungi situs youtube.com. Di kotak pencarian, dia menuliskan “Social media accounts phishing tutorial”. Setelah nonton satu dua video, dia merasa kurang puas dengan informasi yang ditampilkan. Kemudian dia tambahkan di kotak pencarian, “for beginners”.

“Ham, kamu masih tidur?”

“Nggak, masuk aja.”

Lia memasuki kamar Ilham sambil membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan segelas jus jeruk.

“Nih, sarapan dulu. Lagi ngapain?” kata Lia sambil meletakkan nampan di meja sebelah tempat tidur Ilham.

“Ini lagi cari-cari soal phishing”

Mata Lia berbinar-binar mendengarnya.

“Oh ya? Makasih Ilham!”

Lia memegang lengan Ilham dengan kedua tangannya. Ilham menarik lengannya.

“Tahun ini umur kamu berapa?”

“Dua tiga jalan dua empat. Kenapa emangnya?”

“Umurku tiga dua. Kita selisih jauh. Jadi, panggil aku Mas Ilham”

“Mas…”, kata Lia ragu-ragu.

Ilham manggut-manggut

“Aneh ih.”

“Mas. Ilham.”

“Mas… Ilham…”

“Nah, betul begitu. Sekarang, nama pacar kamu siapa?”

Lia tampak ragu-ragu sebelum akhirnya memberanikan diri

“Dimas Sasongko”

“Dia itu siapa?”

“Anaknya Prabu Sasongko.”

“Pemilik pabrik rokok itu?”

“Iya. Gak cuma rokok sih, banyak…”

“Iya, aku tahu. Dia investor besar di salah satu startup unicorn juga”

“Unicorn?”

“Never mind. OK, yang kita lakukan sekarang adalah melacak akun-akun dia yang dia pakai untuk online. Kamu punya apa aja?”

“Twitter ada… Facebook ada…”

“OK, kamu kasih aku semuanya”

Lia menyerahkan HP-nya kepada Ilham

Setelah mendapatkan semua akun Dimas yang Lia tahu. Ilham diam sejenak. Kemudian, dia mengetuk-ngetukkan jarinya di sisi keyboard laptopnya.

“Jadi gini, Lia. Rencanaku adalah mengintimidasi Dimas sedemikian rupa. Termasuk juga mencuri akun-akunnya. Dengan begitu, dia tidak akan berani menggangu kamu lagi. Aku butuh nama samaran. Tadi dia ganggu kamu di twitter ya?”

“Iya”

“Gak tahu malu itu orang.”

Ilham mengetikkan sebuah username di twitter. “fanliakomala”. Tanda silang merah muncul, menunjukkan bahwa username itu sudah dipakai. “fanliakomalano1”. Tetap saja gagal. Kali, ini Ilham mencoba dengan “iloveliakomala” dan “liakomalaidolaq”. Namun belum membuahkan hasil.

“Penggemar kamu banyak bener, Lia.”

“Iya, nggak ngerti juga aku Ham… mas”

“Ah, bener juga”

Ilham tiba-tiba terpikir sesuatu. Dia mengetikkan username “liakomalafanno1”. Berhasil! Akhirnya, seorang geek yang antisosial bahkan di dunia maya itu mempunyai akun Twitter juga. Dan, username-nya adalah @liakomalafanno1.

“OK, sudah. Kamu pergi sana.”

“Loh, kenapa mas?”

“Memangnya hacking itu kayak Hugh Jackman atau Rami Malek, bisa ditunggu? Butuh proses. Mangkanya aku butuh waktu seminggu. Dah, kamu keluar sana. Dan, tolong tutup pintunya”

Sepuluh menit kemudian, Ilham masih menatap layarnya. Dia berfikir, kata-kata apa yang pantas dilontarkan kepada akun @dimassas yang melecehkan Lia di Twitter. Akhirnya, dia tutup browser-nya, dia buka salah satu game launcher-nya, memilih dari library game kesayangan yang akan dimainkannya.

Beberapa hari kemudian, Ilham sudah kembali ke kesehariannya. Berangkat pagi, pulang pagi lagi. Tidak ada yang dipikirkan dalam hidupnya, kecuali kerja, kerja dan kerja. Di suatu malam yang sepi, hanya tersisa Ilham dan seorang kawannya yang bernama Udin. Udin ini bisa dibilang “teman” Ilham. Bukan karena mereka punya “chemistry” terus kemudian jadi dekat, bukan begitu. Mereka berteman semata-mata karena sering menjalani malam bersama-sama. Udin kadang-kadang memang shift malam, berputar setiap 4 hari sekali. Pekerjaannya sebagai seorang Infrastructure Engineer mewajibkan tim mereka harus siap sedia selama 24 jam. Sementara Ilham, tak jelas shift apa. Yang jelas, mereka sering pulang sama-sama jam 2 malam.

“Belum pulang mas?”

“Baru juga jam 10”

“Lagi ngapain e mas? Kayaknya seru?”

“Aku lagi belajar phishing.”

“Tumben-tumbenan mas Ilham belajar black hat”

“Dimintai tolong isteriku. Ada stalker yang suka gangguin dia. Sudah diancam suruh berhenti dia gak mau. Ya udah, akhirnya aku kirimin dia email pura-pura dari facebook. Eh berhasil. Aku dapet password-nya. Terus, aku cobain ke akun dia yang lain, ternyata bisa. Kena semua”

“Mas Ilham memang jos. Dapat kartu kredit juga nggak?”

“Nggak lah, kriminal itu”

“Lah, emang apa bedanya. Kan pencurian informasi kriminal juga. Itu cuman tinggal dikit lagi, thes, habis uangnya”

“Nggak mau.”

Ilham mengirim pesan kepada Lia, “Aku sudah bikin Dimas nggak bisa login ke akun-akun medsosnya. Untuk sementara, dia nggak akan ganggu kamu lagi.”

“Pulang mas, nggak dicariin isterinya po?”

“Jam segini paling dia sudah tidur. Mau ngegame dulu se-match”

“Punya isteri artis enak nggak mas?” kali ini Udin menanyai Ilham sambil berbisik.

“He? Biasa aja.”

“Ah, yang beneer…”

“Maksudnya?”

“Nggak, nggak papa”