Bab 3
“Kamu ngeselin tau gak sih mas!
Ilham yang tengah menikmati sarapannya jadi tersedak.
“He?"
“Emangnya rumahku kos-kosan? Pulang langsung masuk kamar. Keluar kamar cuma buat makan sama mandi. Habis itu pergi lagi. Terus, emangnya aku pembantu kamu? Habis makan, langsung taroh begitu aja. Trus langsung pergi.”
Ilham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Terus, kamu maunya gimana?”
“Ya bagi-bagi tugas dong. Inget ya, aku dah bayar kamu mahal. Sepuluh milyar. Masa kamu mau enaknya aja?”
“Bagi tugas seperti apa? Bajuku sudah ku laundry sendiri. Rumah, katamu seminggu sekali ada yang bantu bersih-bersih. Trus, kamu sendiri yang memang suka masak. Terus, salahku di mana?”
“Emangnya habis makan piring gak perlu dicuci? Lagipula, kalo nunggu seminggu baru dibersihin, itu debu menumpuk. Bisa bikin sesak nafas.”
“Ya udah, aku harus gimana kalo gitu.”
“Aku yang masak, kamu yang bersih-bersih rumah, cuci piring, sama cuci baju.”
“Cuci baju juga? Di laundry aja kenapa?”
“Gak, aku maunya kamu yang cuci baju.”
“Tapi seterika baju kan lama. Aku gak punya waktu. Kerjaanku banyak Lia”
“Seterika baju bisa sama bu Sinta. Gak masalah”
“Ya tapi kan …”
“Udah, gak usah banyak alasan.”
Sebenarnya, Lia tidak mau memperbudak Ilham seperti ini. Bahkan Lia merasa berterima kasih dengan Ilham. Dimas sudah berhenti mengganggunya. Dia bisa pelan-pelan belajar melupakan perasaannya. Akan tetapi, semua laki-laki ternyata sama saja! Itulah mengapa Lia perlu memberi pelajaran kepada Ilham. Sebenarnya Lia tidak menganggap Ilham sebagai orang jahat, cuma memang ngeselin minta ampun. Bahkan diamnya pun sudah bikin kesel.
Sementara itu, Ilham hanya bisa menerima nasib dengan pasrah. Nyatanya, memang dia tinggal di rumah Lia. Dan dia juga dibayar. Hanya saja, mencuci baju perempuan, ini … agak keterlaluan. Dulu waktu SMA, adiknya yang mencuci bajunya. Perempuan yang mencuci baju laki-laki, dan bukan sebaliknya.
“Oh ya mas, yang keranjang biru gak usah. Yang keranjang putih sama merah aja”
“OK”
Ilham menghela nafas lega. Tampaknya Lia tidak sekejam itu. Pelan-pelan dia melirik ke arah keranjang biru. Baju pesta? Kain glossy? Warna warni? Tampaknya, ini pakaian “kerja” Lia. Pantas dia minta dipisahkan. Mungkin takut rusak kalau dicuci sembarangan. Tunggu sebentar, kalau begitu, yang di keranjang putih sama merah? Ilham hanya bisa menahan kekesalannya. Dia memasukkan sembarangan kain-kain itu ke mesin cuci. Asal comot saja.
“Mas, jangan lupa yang luntur dipisah ya. Yang kira-kira gampang rusak, nanti dipisah juga, jangan disetel yang paling tinggi puterannya. Trus, jangan lupa dilembarin juga. Biar rata nyucinya.”
Plis Lia. Apakah kau tidak bisa lebih menyiksaku lagi? Ilham hanya bisa menjerit dalam hati.
Dua jam empat puluh satu menit kemudian, Ilham sudah selesai mengeringkan semua baju yang dicucinya. Dan, sebagaimana layaknya seorang yang selalu menghargai waktu, selain mencuci baju, dia juga menyelesaikan dua ronde MOBA. Lumayan lah. Walaupun kalah berturut-turut di pertandingan ranked.
“Mas, kalau sudah selesai, jangan lupa cuci piring dan bersih-bersih rumah. Aku mau ke atas dulu”
Ilham tidak bisa membantah. Ini hari Sabtu. Harusnya, dia bisa bersantai tidur sepuasnya, seharian. Tapi ternyata tidak. Dia harus pontang-panting ke sana ke mari membereskan rumah, belum lagi…
“Mas, wajannya kok masih bau? Cuci lagi gih”
Atau…
“Ada sarang semut nih di sini. Kok gak dibersihin sekalian.”
Kemudian…
“Jendelanya sekalian ya. Lama gak dibersihin tuh, dah mulai berdebu”
Ilham merasa dicurangi. Harusnya, ini semua jatah Bu Sinta. Tapi, hari ini Lia memaksa dia buat bersih-bersih. Hilang sudah waktu liburnya yang berharga. Dia melihat jam menunjukkan pukul lima. Hari sudah menjelang senja. Dari jauh, Lia geli tertawa.
Sebuah taksi berwarna biru berjalan pelan menyusuri aspal, sambil sesekali bergoyang menapaki lubang. Masuk ke sebuah belokan, taksi tersebut sampai di lapangan. Anak-anak riuh bermain sepakbola. Tidak lengkap berdua puluh dua memang, tapi mereka tetap ceria. Di ujung lapangan, tampak sebuah rumah bercat hijau, bergenteng hijau, dan di depannya banyak sekali pot-pot bertumbuhan hijau. Taksi itu berhenti. Keluar sepasang laki-laki dan perempuan. Si laki-laki memakai celana kargo cokelat panjang dan berkaos hitam, bersandal jepit. Si perempuan bercelana jins, bersepatu kets, dan berbaju hem cokelat muda, lengan bajunya menutupi sikunya.
Ilham dan Lia akhirnya tiba juga di Cilacap. Butuh waktu tiga minggu dan sebanyak lima pesan dari ibu Ilham untuk membawa mereka ke sini. Tentu saja, Ilham selalu beralasan sibuk demi menghindari pertemuan dengan ibunya. Namun, dia tahu bahwa tidak mungkin untuk menghindar selamanya. Ilham harus menjelaskan kejadian maha penting yang menimpanya kepada ibu yang menyayanginya.
“Mas, kamu yakin aku gak pakai kerudung gakpapa?”
Lia berbisik kepada Ilham. Tangannya merogoh sepucuk kain di tasnya, namun tidak dikeluarkannya
“Udah kubilang, kalo kamu pake, nanti Ibu menganggapmu munafik. Semua orang tahu kamu biasa nggak pake jilbab”
“Aku deg-degan mas”
“Dah gakpapa, yang penting gak pake rok mini aja”
Pintu rumah terbuka. Seorang perempuan berdaster panjang dan berjilbab hitam lebar keluar darinya. Ketegasan dan keyakinan diri terpancar dari matanya, tapi jumlah keriput di wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak muda lagi. Ia terdiam melihat sepasang laki-laki dan perempuan berdiri depan pagar. Ia berjalan mantap, namun pelan, selangkah demi selangkah ia menghampiri mereka berdua, menegakkan badannya yang mulai membungkuk. Lia menggenggam tangan Ilham, makin lama makin erat.
“Bu, ini istriku Lia”
“Ibu…”
Lia menghampiri si Ibu, membungkuk dan mencium tangannya. Ibu diam saja tidak menanggapi, hingga akhirnya Lia mundur kembali.
“Masuk”
Ibu berbalik menuju ke dalam rumah. Lia menatap Ilham, seakan hendak bertanya. Ilham hanya mengangkat bahu.
Mereka bertiga duduk di ruang tamu, Lia bersebelahan dengan Ilham, sementara mereka berhadapan dengan Ibu. Ruangan yang hanya sekecil 3m x 3m membuat suasana jadi semakin kaku. Ilham dan Lia diam saja. Mereka menunggu Ibu mulai bicara.
“Kamu akhirnya ingat untuk pulang?”
“Bu…”
“Kamu masih anggap aku ibumu?”
Ilham diam.
“Sudah berapa bulan?”
“Kami menikah tiga bulan lalu”
“Jangan pura-pura! Sudah hamil berapa bulan dia?” Ibu menunjuk Lia
“Ibu salah sangka. Saya tidak hamil.” Lia menjawab
“Benar Bu, Lia tidak hamil.” Ilham menimpali
“Ceraikan dia.”
“Ibu!”
Lia berseru. Dia mendekati ibu, lalu berlutut. Sambil memegangi tangannya, Lia kembali bicara,
“Ibu, saya sayang sama mas Ilham.”
Lia berkata dengan penuh kesungguhan. Tapi Ibu hanya menarik tangannya.
“Benar kamu tidak hamil?”
“Iya, Bu.”
“Lalu, mengapa kalian menikah tidak bilang-bilang Ibu? Aku ibumu. Tapi, aku tidak tahu anakku sendiri menikah. Semua orang tahu kalau anakku menikah. Dengan artis terkenal. Tapi, aku yang terakhir tahu. Kau anggap apa aku ini?”
Ilham hanya diam saja.
“Jawab!”
“Kami takut ini bakalan mempengaruhi karirnya. Lagipula, …”
“Sudah, jangan pura-pura! Kalian berduaan di kamar hotel. Menikah? Orang lain bisa percaya tapi aku tidak. Kalau kalian memang benar-benar menikah, maka kamu akan kenalkan dia pada ibu. Kamu juga pasti akan berkunjung ke rumah orangtuanya. Orang-orang boleh saja tidak tahu, tapi keluarga pasti tahu!”
“Maaf, Bu…”
“Jadi benar kamu sudah tidur bareng sama dia? Berapa kali? Sepuluh kali? Dua puluh kali? Apa kamu benar-benar tidak bisa menahan nafsumu? Kamu kan bisa bilang ibumu! Wanita lain kan banyak? Ibu bisa carikan wanita yang sepuluh kali lipat lebih baik darinya. Apa hebatnya dia sih? Cantik? Banyak wanita cantik yang seperti dia.”
“Ini tidak seperti yang ibu pikirkan…”
“Ibu, mas Ilham tidak salah. Saya yang salah. Ibu marah sama saya gakpapa, tapi jangan marahi mas Ilham. Maafkan saya Ibu. Saya yang memaksa mas Ilham menikahi saya. Saya… tidak tahu harus berbuat apa. Mas Ilham masih tetap sayang sama Ibu.”
“Dan kamu, … . Ilham tidak akan bisa menyentuhmu kalau kamu tidak mengizinkannya. Kalau kamu memang perempuan baik-baik, kamu tidak akan berbuat seperti ini. Anakku bukan orang kaya. Wajahnya juga biasa-biasa saja. Aku tidak mengerti mengapa kamu menggoda dia. Mengapa kamu tidak cari orang yang selevel denganmu? Mengapa anakku?”
Lia hanya bisa menunduk.
“Ibu, kami tidak pernah berzina, kalau itu yang ibu maksud,” Ilham menyahut, mencoba memecah keheningan.
“Kamu masih terus akan berbohong? Semuanya sudah jelas bagi ibu. Kamu mau berdalih apa lagi?”
“Ibu, tolong dengar dulu! Yang sebenarnya terjadi adalah, kami…”
Ilham ragu-ragu menjawab. Dia menoleh kepada Lia. Wajahnya tampak pucat, tapi dia tidak berani mencegah Ilham.
“Sebenarnya, … kami … kami tidak melakukan apa-apa Bu. Kami memang berdua di kamar hotel, tapi kami cuma bertemu saja. Sungguh.”
“Heh, kalian bilang menikah tiga bulan yang lalu? Kalian menikah tiga bulan dan tidak melakukan apa-apa?”
“Itu, … , kami bohong Bu. Kami panik. Kami takut mereka menulis hal buruk soal kami.”
“Jadi, kalian belum menikah?”
“Sudah.”
“Tadi, kamu bilang…?”
“Besoknya. Sehari setelah kejadian di hotel.”
“Ilham!”
Ibu yang mulai reda marahnya kembali berteriak.
“Itu benar ibu!”
“Jangan bicara lagi! Kamu laki-laki! Seorang laki-laki harus berani mengakui kesalahannya. Kalau kamu memang tidur dengan perempuan itu, bilang saja terus terang! Jangan plintat-plintut kayak bapakmu!”
“Jangan sebut-sebut bapak!”
“Apa bedanya kelakuanmu sama bapakmu?”
Lia kembali memegang tangan ibu
“Ibu, ibu jangan marah lagi, ya…”
Ibu menggeser tangannya dari Lia.
“Maaf, kami menikah tidak sesuai harapan ibu. Tapi, kami benar-benar saling mencintai. Kami tidak akan lupa sama ibu. Kami akan sering-sering ke sini. Sekali lagi, maafkan kami ibu.”
Ibu hanya bisa menghela nafas panjang.
“Ibu, saya ngerti ibu belum bisa terima saya. Saya cuma berharap ibu mau beri saya kesempatan. Saat ini mungkin saya belum bisa jadi menantu yang baik sesuai harapan ibu. Tapi, saya janji akan belajar. Saya mohon Bu, …”
“Duduk sana.”
Lia beringsut kembali ke samping Ilham. Ruang tamu itu kembali tenang. Ilham dan Lia tampak lega Ibu tidak marah lagi. Namun, mereka belum berani mengajak ibu bicara kembali.
“Assalamu’alaykum”
Dari balik pintu, di teras rumah, tampak seorang perempuan chubby berjilbab biru tua dan bergamis abu-abu tersenyum. Di cengkeraman kedua tangannya, ada sebuah panci aluminium besar.
“Wa’alaykumussalam, masuk Aya”, Ibu menjawab salam perempuan bernama Aya itu.
Aya berjalan cepat-cepat. Panci besar yang dibawanya seakan tak memberatkannya. Aya menaruh panci di meja dengan hati-hati, sebelum akhirnya duduk di depan Lia dan Ilham. Dia mengulurkan tangannya pada Lia.
“Aku Aya, adiknya mas Ilham.”
“Lia.” jawab Lia pendek sambil menyambut uluran tangan Aya.
“Aku ndak nyangka lho, bisa punya kakak ipar artis. Aku nggak pernah ketinggalan nonton mbak. Sampe-sampe suamiku sering protes, karena kadang aku sampai lupa belum nyiapin masakan buat dia. Biasanya kalo udah gitu, aku suruh delivery aja, hehehe…”
“Makasih”, jawab Lia
“Aya, bawa masakannya ke dapur. Habis itu, siapkan makan buat kita semua”
Baru saja Aya membuka mulutnya untuk kembali mengajak Lia mengobrol. Tapi, Ibu sudah bertitah lain.
“Biar saya bantu.”
Lia berdiri sigap, kemudian dengan cepat mengangkat panci itu. Akan tetapi, terkejutlah Lia. Panci itu tidak seringan gaya bicara Aya. Lia pura-pura tidak berpengaruh.
“Ati-ati, lumayan berat itu lho.”
“Nggak, nggak berat kok. Dapurnya di sebelah mana?”
“Oh, ke sini mbak, ikut saya”
Aya kembali berjalan cepat-cepat. Terpaksa Lia harus mengikuti.
“Taruh di situ aja mbak, di atas kompor. Biar gampang kalo mau diangetin”
“OK”
Lia menaruh panci itu dengan hati-hati. Dia berusaha tidak membanting panci besar yang berat itu.
“Makasih mbak”
Lia mengangguk sambil tersenyum. Aya bergerak cekatan mengambil piring, mangkok, dan sendok, mempersiapkan semuanya di meja di dekat kompor. Lia tidak ketinggalan turut membantu, mengisi piring-piring dengan nasi. Mereka bekerja sama tanpa komando, satu dan yang lain seolah saling mengerti harus berbuat apa. Bau sedap menyeruak ketika Lia membuka panci, menyendok isinya ke dalam tiap-tiap piring.
“Ibu suruh aku untuk memasak sop iga kesukaan mas Ilham. Waktu mas Ilham chat Ibu mau datang ke sini, Ibu senang sekali. Makanya dia suruh aku masak. Dia bahkan suruh aku untuk bersih-bersih kamar mas Ilham. Kasur mas Ilham yang lama diganti sama yang lebih besar. Kata Ibu, nggak cukup buat kalian berdua. Jadi, kalian bisa betah tidur di sini kalo pas liburan pulang kampung.”
“Ooo…”
Lia hanya bisa manggut-manggut.
“Jujur mbak, aku kaget waktu mendengar mas Ilham menikah sama mbak. Nggak nyangka aja. Mas Ilham gak pernah cerita punya pacar atau apa soalnya, eh tau-tau udah nikah. Sama mbak lagi. Apalagi mbak kan bukan tipe mas Ilham biasanya.”
“Oh ya?”
“Iya mbak. Dulu banget, mas Ilham pernah suka sama temen kuliahnya di Jogja. Mereka sama-sama aktivis musholla. Satu jurusan kalo nggak salah. Gak tau gimana, pas di tahun keempat, si mbak ini dilamar sama kakak kelasnya yang sudah lulus dan kerja di Jakarta. Lamarannya diterima. Setelah itu, mas Ilham kayak nggak semangat kuliah. Skripsinya sempat molor selama dua tahun. Padahal, kalo lulus tepat waktu, mas Ilham itu cum laude lho.”
“Ooh, gitu. Emang dia gak pernah bilang suka sama mbaknya?”
“Nggak tau juga mbak. Ya kan biasa gitu, anak musholla gak boleh pacaran. Cuman, kayaknya mereka itu udah akrab banget. Waktu aku liburan ke Jogja, yang nemenin aku jalan-jalan ya mbak Tiara itu. Oleh-oleh yang beliin juga dia. Waktu itu, Mas Ilham pas lagi sibuk daurah apa gitu di Kaliurang. Tapi ya mbak, saya nggak ngerti sama mas Ilham. Pas mbak Tiara dilamar sama kakak kelasnya, yang ditanya pertama kali itu mas Ilham. Mas Ilham bilangnya kalo kakak kelasnya itu orang shalih. Dia dewasa, udah gitu mapan. Kalo mbak Tiara nolak, itu artinya menolak orang shalih, gitu.”
“Eh, beneran mas Ilham bilang gitu?”
“Ya gitu katanya sih mbak.”
“Ooo.. “ sambung Lia sambil tampaknya berfikir sesuatu. “Mas Ilham gak pernah suka sama cewek lain habis itu?”
“Hmm, … pernah nggak ya? Sepertinya sih nggak. Nggak pernah cerita apa-apa dia.” Aya tersenyum nakal sambil mendekatkan wajahnya ke Lia. “Mbak penasaran sama mantan-mantannya mas Ilham yaa..” kata Aya berbisik.
“Apaan sih.”
“Lha itu, buktinya…”
“Dah ah, ganti topik…”
Aya hanya melirik Lia, tapi kemudian ia bilang, “Oh ya mbak, tadi datang ke sini naik apa?”
“Dari Jakarta ke Cilacap naik pesawat, terus ke sininya pake taksi.” Lia menjawab seperlunya saja.
“Rencana di sini mau berapa hari mbak?”
“Pulang Selasa. Jadinya empat hari.”
“Wah, kalo gitu bisa sambil wisata dong mbak.”
“Ada gitu tempat yang bagus?”
“Ada mbak, banyak malah. Dekat sini ada Teluk Penyu. Ya, pantai biasa gitu sih mbak. Tapi, orang-orang malah lebih suka yang di Nusa Kambangan. Harus nyebrang tapi. Pake perahu. Terus dari sana jalan lewat hutan. Mbak pasti suka.”
“Asyik banget. Mau dong.”
“Minta diajakin mas Ilham ke sana aja mbak. Asyik kan, bulan madu berdua.” Aya menyenggol lengan Lia.
Lia tidak menanggapi, tapi kemudian dia bilang, “Udah yuk, kita bawa keluar makanannya. Ibu sama mas Ilham nungguin di luar.”
–
“Lia, ikut aku sholat isya ya. Di kamar sini aja nggak papa.” Ilham setengah berbisik kepada Lia.
Lia yang sedikit terkejut kemudian menjawab, “Nggak ah. Nanti kalo ditanyain bilang aja lagi mens”
“Mana mungkin Ibu bakal percaya? Itu alasan klasik, tahu!”
“Tapi, aku gak bawa mukena. Gimana dong?”
“Ya sudah, sana pinjem sama Ibu”
Lia menggeleng. “Gak mau, takut. Mas aja yang pinjemin ya?”
Ilham mendengus kesal.
“Kamu bawa jilbab kan? Pake jilbabnya, terus pake celana panjang. Habis itu kita sholat. Nggak usah alasan lagi. Lagian, masak bawa jilbab nggak bawa mukena?”
“Emang bisa begitu?”
“Ya bisa aja. Kenapa nggak?”
Lia berpikir sejenak.
“Kalo gitu, Aku pinjem ibu aja.”
Ilham menahan kekesalannya. “Terserah mau pake apa. Yang penting cepetan.”
Lia beranjak keluar dari kamar Ilham. Tidak sampai lima menit kemudian, Lia kembali membawa lipatan kain putih di tangannya. Dibentangkannya lipatan itu, kemudian dipakainya mukena two pieces itu ke badannya. Lalu Lia berdiri sempurna, menunggu.
“Ayook! Tunggu apa lagi?”
Ilham tersadar dari lamunannya, “Hah? Oh, OK.”
Ilham berbalik badan dan memulai takbiratul ihram. Setelah hening sesaat, Al-Fatihah mengalun melalui mulutnya. Lia yang tadinya menunduk malas langsung mendongakkan kepalanya, memandang ke arah imamnya. Lia berpikir, bagaimana mungkin orang yang biasanya fals habis ketika menyanyi lagu Sheila on 7 ini bisa semerdu ini ketika membaca ayat Al-Quran? Akibatnya, sepanjang sholat, Lia lebih banyak memikirkan suara lembut Ilham ketimbang khusyu’ membaca doa sholat.
“Mas.”
“Ya?”
“Tadi sholat apa kok 5 rakaat? Isya bukannya 4 rakaat ya?”
“Kamu pasti tidur pas pelajaran agama SMP ya? Itu aku jama’ qashar Isya sama Maghrib”
“Sembarangan. Gini-gini aku juga tau jama’ itu apa. Emang boleh? Kan kita udah sampe di rumah”
“Tapi kan belum sampe lagi di rumah Jakarta. Ini masih safar.”
“Emang iya gitu?”
“Iya dong.”
Lia masih mengerutkan dahinya, namun dia terlalu malas untuk melanjutkan diskusi.
“Lia, terima kasih ya”, mendadak Ilham berkata.
“Apa nih?”
“Ya untuk semuanya. Terutama soal Ibu”
“Santai. Gak usah dipikirin. Lagipula, ini masuk perjanjian kita kan?”
“Iya.” Ilham menjawab pelan.
“Dah ah, aku mau tidur. Ngantuk”. Lia beranjak berdiri untuk melepas mukenanya. Tiba-tiba dia berbalik kembali ke arah Ilham, “Mas, besok mau temenin aku ke pantai nggak?”
“Ngapain?”
“Jalan-jalan lah. Ih, bete tau di rumah aja cuman bengong seharian.”
Ilham diam. Tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.
“Temenin ya? Plis?”
Ragu-ragu, Ilham membuka mulutnya, “OK.”
“Asyiik. Kata Aya pantainya bagus. Apalagi yang di Nusakambangan.”
“Ke Teluk Penyu aja tapi. Nggak ke Nusakambangan”
“Lah, kenapa?”
“Males. Ribet. Jauh kalo ke Nusakambangan. Harus jalan lama.”
“Gak seru dong kalo cuman ke Teluk Penyu doang”
“Ke Teluk Penyu aja. Kalo nggak mau, nggak usah aja sekalian”
“Ah, kamunya gitu. Ya udah deh, ke Teluk Penyu aja.”
“Deal.”
“Sip. Aku mau tidur. Gak asik ke pantai kesiangan. Aku mau bangun pagi-pagi.”
“Lia, tunggu!”
“Apa lagi?”
Ilham bangkit dari tempatnya, menghampiri Lia di sisi tempat tidur. Dia menatap lekat-lekat perempuan itu sambil tersenyum, kemudian berkata, “Kamu sadar kan, ini malam pertama kita seranjang berdua?”
“Oh ya?” jawab Lia ringan, seolah baru sadar. Dia lalu berdiam sejenak. Dia membalas tatapan Ilham. Tubuhnya beringsut mendekati Ilham. Tersenyum, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Ilham. Wajah mereka terpaut lima senti saja. Ilham yang terkejut menarik punggungnya ke belakang, kehilangan keseimbangan. Badannya terhempas ke ranjang. Tapi, Lia belum selesai. Dia kembali mendekati Ilham. Wajah mereka hampir berhimpit. Ilham menelan ludah. “Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan, suamiku sayang?”. Yang ditanya tidak menjawab. Beberapa detik kemudian, meledaklah tawa Lia.
“Anak musholla mau macem-macem. Pegangan tangan aja kamu gak pernah kan? Dah ah. Kali ini, aku beneran mau tidur.”
Lia meninggalkan Ilham, merebahkan dirinya ke sisi dalam tempat tidur, memunggungi Ilham. Sementara Ilham hanya bisa terpaku, belum hilang shock-nya. Malam itu, Ilham berbaring dengan mata terbuka di samping Lia. Sedangkan Lia, dengkurannya sesekali terdengar. Tangannya sesekali menyilang ke arah Ilham. Tak jarang, kakinya menendang Ilham. Rupanya, perempuan ini mempunyai kebiasaan tidur yang buruk. Ilham yang terpojok di sisi tempat tidur, akhirnya frustrasi. Diambilnya bantalnya, lalu dia turun dari tempat tidur. Mendekati pukul tiga pagi, barulah Ilham benar-benar bisa terlelap.