Bab 4

Sebuah motor bebek tua berwarna hitam melintasi kota Cilacap. Per-nya yang sudah tidak berfungsi membuat motor itu jadi makin tenggelam ketika dinaiki sepasang laki-laki dan perempuan. Si laki-laki memakai baju kebesarannya, T-shirt hitam, celana pendek selutut, dan sandal jepit. Si perempuan yang bercelana jins, berkaos putih, dan berompi jins pula, berpegangan erat-erat pada ujung belakang motor. Dia ragu, apakah motor ini mampu mengantarkan mereka sampai tujuan. Umur motor itu mungkin sudah dua puluh tahun. Motor itu adalah tunggangan Ilham ketika SMA dulu, sebelum akhirnya dipakai Aya ketika Ilham berkuliah di Jogja.

Untunglah, mereka akhirnya tiba. Gapura dengan tulisan besar-besar Teluk Penyu menyambut mereka. Motor itu berhenti sebentar, mengantri sebuah motor lain yang sedang membayar karcis. Ketika si motor tua melanjutkan perjalanan, terlihatlah di depan ada tulisan merah putih besar, tentu saja itu tulisan “Teluk Penyu”. Motor itu berbelok menyusuri jalan aspal yang sesekali berlubang, membuat spatboard-nya bergesekan dengan ban belakang tiap kali terjadi hentakan. Di kiri jalan, terlihat ombak pantai pasang dan surut, seakan malu-malu menggoda pengunjungnya. Di sebelah kanan, berjajar kios-kios makanan. Kebanyakan masakan laut tentu saja, tapi sesekali terlihat juga kios penjaja ayam goreng dan penjual bakso. Hingga akhirnya mereka berbelok memasuki tempat parkir. Lia turun dari motor, sementara Ilham memarkirkan motornya sebelum kemudian kembali lagi menghampiri Lia.

“Aku mau duduk di sana.” Ilham menunjuk ke sekelompok meja triplek yang dinaungi pohon-pohon rindang. Tanpa menunggu jawaban Lia, Ilham mendekati seorang yang baru saja meninggalkan meja-meja itu, membisikkan sesuatu. Ilham menghampiri sebuah meja. Ditaruhnya tas ransel di punggungnya ke atas tanah. Ditariknya kursi plastik di samping meja itu, kemudian didudukinya. Ilham menarik sebuah sampul kulit berwarna kecokelatan dari dalam tasnya, yang kemudian dibukanya. Ditekannya bagian pinggir dari isi sampul itu, yang kemudian berpendar terang. Sebuah tablet 10 inch mulai menyala. Beberapa saat kemudian, Ilham tampak asyik memandangi tabletnya, sambil sesekali telunjuknya mengusap layar.

“Kamu ngapain?” tanya Lia yang sejak entah kapan berdiri di samping Ilham.

“Baca buku. Kamu katanya mau main-main di pantai? Tuh, pantainya” Ilham mengisyaratkan arah pantai dengan matanya.

Lia memandang Ilham, seakan tak percaya apa yang dilihatnya.

“Kamu jauh-jauh datang ke pantai cuman buat baca buku?”

“Misi mas, mbak, silakan minumannya” seorang laki-laki menaruh dua gelas tinggi berisikan es kelapa muda ke depan Ilham, menyela mereka berdua.

“Kamu kan cuma minta ditemenin? Kamu nggak minta aku main ke pantai bareng kamu.”

Lia melotot, sebelum akhirnya menghempaskan badannya ke kursi di samping Ilham. Ditariknya segelas es kelapa muda di depannya.

Ketika sedotan hampir menempel bibirnya, “Kamu sudah pesen minum belum?”. Ilham memotong. Lia menghentikan tangannya. Dia mengernyitkan dahi.

“Dua gelas itu punyaku semua. Di pantai gerah. Kalo kelamaan di sini, gak cukup kalo cuma satu.”

Lia mendorong gelas di depannya kembali menjauh. Wajahnya bersungut-sungut. Ilham kembali memusatkan perhatiannya ke tablet yang dipegangnya.

“Assalaamu’alaykum!” sebuah suara berat yang keras kembali mengalihkan Ilham dari perhatiannya. Seorang bapak tambun berusia sekitar lima puluhan berdiri di sisi Ilham. Berkulit gelap, berkaos kumal berwarna merah, bersarung dan berpeci, si bapak tersenyum kepada Ilham.

“Mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan rahmatnya kepada bapak dan ibu, dikaruniai kesehatan dan keselamatan selalu. Mudah-mudahan rizki bapak dan ibu selalu lancar dan berkah. Saya mohon, bapak dan ibu berkenan memberikan bantuan kepada kami…”

“Nggak nggak. Yang lain aja.” Ilham membuat isyarat menghadapkan telapak tangannya ke depan.

“Saya mohon pak, anak saya butuh biaya untuk sekolah…” kali ini, suara si bapak bergetar.

“Yang lain aja.”

“Allah akan membalas kebaikan ibu dan bapak…”

“Yang lain aja! Denger nggak sih?” Si Bapak terkejut. Tertunduk lesu, ia berjalan lemah menjauhi mereka berdua.

“Tunggu sebentar Pak," Lia menyusul bapak tua itu, setengah berlari. Ia menyisipkan sesuatu di tangan kiri bapak tua. Terkejut, si Bapak melirik tangan kirinya.

“Terima kasih ibu! Mudah-mudahan Allah selalu melindungi dan menyayangi ibu. Mudah-mudahan Ibu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.” Si Bapak berteriak kegirangan. Berulang kali ia berterima kasih kepada Lia. Lia hanya tersenyum sambil terus mengangguk, membalas setiap ucapan dan bungkukan hormat darinya.

“Kamu tadi apa-apaan sih?” Lia kini sudah berdiri di samping Ilham, berkacak pinggang

“Kamu tadi kasih berapa akhirnya?” tanya Ilham datar, tanpa menoleh Lia sama sekali.

“Itu nggak penting. Yang jelas, aku heran kamu setega itu..”

Ilham menaruh tabletnya di atas meja. Ia beralih pandangan ke Lia yang di depannya.

“Kamu kenal dia? Kamu tahu nggak, di tempat wisata seperti ini, banyak orang seperti dia berkeliaran. Sebagian besar dari mereka adalah penipu.”

“Aku memang nggak kenal. Tapi kamu nggak berhak ngejudge orang begitu. Kamu juga nggak kenal kan? Siapa tahu dia memang butuh banget.”

“Bahkan seandainya dia memang butuh pun, aku akan tetap melakukan hal yang sama.”

“Kamu… ! Emangnya di agama tidak diajari untuk berbuat baik ya?”

“Aku sedang berbuat kebaikan”, kata Ilham pelan, menegaskan setiap katanya.

“Apa? Gimana? Gak ngerti aku.”

“Kamu lihat nggak tubuh bapak tadi? Masih kekar, masih kuat untuk bekerja. Dia memakai peci dan sarung, menyebut-nyebut nama Allah. Tipuan yang murahan sekali.”

“Bagaimana kalau kamu salah?”

“Tidak mungkin.” Ilham tersenyum yakin

“Tapi, apakah kamu akan anggap semua pengemis itu penipu?”

“Gini ya Lia. Allah nggak akan mengubah nasib seseorang kecuali orang itu mengubahnya sendiri. Memangnya dia nggak bisa kerja, apa kek gitu? Jualan mainan misalnya. Nggak kayak gini. Jualan Allah untuk dapetin dunia. Setiap orang, kalo mau kerja keras pasti bisa berhasil.”

“Jadi dia itu malas gitu maksud kamu?”

“Iya! Tidak ada alasan orang miskin tetap miskin kecuali karena malas. Selama aku hidup, aku melihat bahwa orang-orang yang gagal itu memang layak gagal. Yang paling gampang aja. Belajar matematika. Baru saja mereka membaca sepuluh menit, mereka bilang kepala mereka pusing. Mereka bilang nggak ngerti. Aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengerjakannya, dan aku tidak mengeluh pusing. Teman-temanku di SMP seperti itu. Dan, setiap kemalasan demi kemalasan baru akhirnya semakin menyempitkan hidup mereka. Mereka tidak mau belajar, mereka susah mendapatkan sekolah yang bagus. Mereka susah mendapatkan sekolah yang bagus, ketika lulus mereka susah cari kerja. Ketika dapat kerja, mereka hanya mendapatkan pekerjaan seadanya saja. Dengan pekerjaan seadanya, bagaimana mereka bisa meningkatkan kemampuan mereka dan membangun karir mereka?”

“Tapi kan, tidak semua orang sama pintarnya?”

“Aku tidak bicara IQ. Orang pintar memang mendapatkan keuntungan. Tapi, tidak sebesar yang kau bayangkan. Orang pintar kerap kali mengambil keputusan-keputusan bodoh dalam hidupnya, yang mengakibatkan mereka berakhir di tempat yang buruk. Mereka takut untuk sukses. Mereka takut untuk maju.”

“Lalu bagaimana dengan aku? Kalo aku tidak ikut Penyintas Terakhir, maka aku tidak tahu harus ngapain. Orang tua kami sudah meninggal. Mungkin, kami akan jadi miskin dan berakhir di jalanan. Kamu gak tau sulitnya lulusan SMA cari kerja kan? Aku kerja keras, dan itu nggak cukup. Kamu bilang aku malas? Brengsek kamu emang.”

“Tapi, setidaknya kamu bukan pengemis. Dan juga, jika kamu tetap malas seperti ini, aku pikir karir kamu tidak akan bertahan lama.”

“Apa kamu bilang?”

“Sekarang aku tanya, apa pekerjaan kamu? Main film? Aku sempat liat sinetron kamu. Akting kamu nggak bagus-bagus amat. Semua orang suka kamu karena Penyintas Terakhir. Lalu setelah itu apa? MC? Iklan? Nyanyi? Kamu gak bisa nyanyi. Satu-satunya yang mungkin adalah tetap main sinetron. Tapi, siapa yang bakalan terus mau pake kamu jika akting kamu hanya begitu-begitu saja? Ah, aku tahu. Kamu bisa beralih jadi Youtuber. Jualan konten-konten sensasional. Gak penting dan banyak nipunya, tapi kamu tetap terkenal.”

“Maksud kamu apa ngomong gitu sama aku?”

“Kamu tahu Kangen Band kan? Mereka beruntung bisa terkenal, tapi mereka bodoh tidak memanfaatkan kesempatan itu. Seandainya mereka belajar musik beneran setelah mereka terkenal dan menjaga hidup mereka bersih dari narkoba, mungkin mereka saat ini masih akan tetap terkenal. Kalo kamu mau kerja keras dan jadi aktris yang bener, mungkin karir kamu akan bertahan lama. Kalo tidak, tinggal tunggu waktu aja itu rumah juga bakalan kamu jual.

“Sudah-sudah! Pusing aku denger ceramah kamu. Aku nggak mau denger lagi. Aku mau main ke pantai. Aku mau pergi jauh dari kamu. Aku mau ke Nusakambangan.”

“Tunggu, jangan!”

“Aku pergi sendiri! Ngapain sama kamu? Bikin bete aja.”

“Siapa yang mau pergi sama kamu? Aku cuma mau ngingetin aja. Begitu kamu sampai di Nusakambakangan, kamu akan bertemu hutan. Dulu kakak angkatan SMP kami pernah berkemah di situ. Ketika pulang, tiga orang siswa kesurupan. Kami sampai harus memanggil paranormal. Aku tidak mau tahu ya, kalo terjadi apa-apa sama kamu”

“Bodo ah”

Lia ngeloyor pergi meninggalkan Ilham, berjalan menuju pantai di depannya. Ilham kembali menenggelamkan diri kepada bukunya, merasa yakin bahwa Lia tidak akan berani menyeberang ke Nusakambangan.

Lia berdiri menghadang ombak, bersiap-siap menerima hantaman gelombang yang mulai bergulung sejak lima puluh meter di depan. Dan benarlah, ombak menghantam tubuh Lia, memercikkan air ke wajahnya. Lia memejamkan mata, kemudian tertawa-tawa ceria. Empat detik kemudian sang gelombang surut berbalik ke laut, merongrong pasir di bawah kakinya. Lia yang masih memejamkan mata, menghirup nafas dalam-dalam, membentangkan tangan lebar-lebar, seakan narapidana yang baru keluar dari Nusakambangan.

Beberapa menit kemudian, Lia tampak berkejar-kejaran dengan ombak, seakan anak-anak yang tidak mengenal hari esok. Sesekali, di kejauhan, di bawah pohon rindang, Ilham melirik ke arahnya. Ilham sangat ingin memusatkan perhatian pada bukunya, sayang sekali dia salah memilih buku untuk dibaca. Baru membaca setengah lusin halaman, dahinya berkerut, desahan keluar dari mulutnya. Seandainya yang dibacanya adalah novel fantasi tebal semacam Harry Potter, tentu ia sudah tenggelam berjam-jam lamanya. Tapi, di antara semua buku, dia memilih “Domain Driven Design”, sebuah buku abstrak yang terlihat seperti omong kosong baginya. Ditutupnya buku itu, lalu dibukanya pustaka digitalnya. Selama hampir setengah jam dia menggeser-geser judul buku, hingga akhirnya tiba pada satu judul buku, “Metahumans”. Dia menelisik lebih jauh untuk tahu tentang apa buku itu. “Cerita superhero, boleh juga”, bisiknya. Dipencetnya gambar sampul buku itu, lalu Ilham menekuni halaman demi halaman buku digital di dalam tabletnya.

Ding dong! Suara alarm keluar dari tablet milik Ilham. Baterainya hampir habis. Ilham mendengus kesal. Dia bahkan belum separuhnya membaca novel itu. Namun, ketika dia melirik waktu di tabletnya, dia terbelalak. Sudah dua setengah jam lebih dia membaca. Kepalanya mendongak, matanya melihat ke sekeliling. Pandangannya tak menemukan orang yang dicarinya. “Lia mana ya?” gumam Ilham. Ilham mendadak beranjak dari duduknya. Ia berjalan cepat-cepat menghampiri pantai tempat dia terakhir kali melihat Lia, menoleh ke setiap orang, memperhatikan apakah di antara mereka ada Lia. Tapi, dia tidak dapat menemukan Lia. Dia memastikan sekali lagi, memandang berkeliling tiga ratus enam puluh derajat. Tidak ada. Lalu, Ilham berjalan mendekati sebuah perahu.

“Mau ke Nusakambangan, mas? Mari, tiga puluh ribu saja.”

Ilham berhenti, ragu-ragu. Akhirnya, dia memutuskan berbalik

“Mas, boleh ditawar kok.”

Ilham tidak menggubris si tukang perahu. Setengah berlari dia menjauhi perahu tersebut. Menyusuri pantai Teluk Penyu, dia gelisah memandangi wajah setiap pengunjungnya. Bergantian antara berlari dan berjalan cepat, Ilham ingin segera menemukan Lia, namun takut melewatkan setiap wajah yang ditemuinya. Berputar-putar, berbolak-balik, ia menyisir setiap sudut pantai.

Di atas batu karang, jeroan elektronik sebuah smartphone menghadap matahari. Di sampingnya, berjajar pembungkusnya dan juga baterainya. Tak jauh dari kepingan-kepingan itu, seorang wanita duduk di atas karang yang sama. Matanya memandang ke arah laut, sementara tangan kanannya menempel di atas alisnya, melindunginya dari silau matahari dan butir pasir yang tertiup angin.

“Lia, kamu di sini?” Terengah-engah, Ilham menyapa. Lia menoleh, mendapati dirinya terhibur dengan pemandangan di depannya.

“Hei, kamu mas. Kebetulan kamu dah ada di sini.”

“Kamu kenapa nggak bilang kalau mau pergi? Hampir saja aku mencarimu ke Nusakambangan.”

“Aku bosen di situ terus. Ya aku jalan-jalan lah.”

“Kamu dah mau pulang belum? Kalo belum, aku tunggu di sini.”

“Tunggu, aku beresin HP dulu, abis itu kita pulang.”

“HP kamu kenapa?”

“Jatuh tadi, nyemplung di air”. Lia menautkan kembali bagian-bagian HPnya, lalu menghidupkannya. “Dah, dah bisa hidup.”

“Yuk, pulang”

“Tunggu!”

“Kenapa lagi?”

“Kakiku keseleo. Aku nggak bisa jalan.”

Ilham melirik kaki kiri Lia. Engkelnya membengkak, telapak kakinya mengarah ke arah yang salah.

“Kok bisa sampe begini?”

“Aku tadi jatuh dari sana. Di yang kayak tangga ditidurin itu.”

“Kamu kenapa nggak telpon aku tadi?”

“Udah dibilang, HPku basah kena air. Ya pas jatuh tadi.”

“Oh iya”

Ilham menghampiri Lia, lalu memegang lengan kirinya. Ia menariknya ke depan, mencoba membantunya berjalan.

“Aduh, sakit, jangan gitu dong.”

“Trus gimana?”

Lia mengalungkan lengan kirinya ke leher Ilham. Dia menumpukan badannya ke lengan kirinya, lalu melangkahkan kaki kananya ke depan. Ilham membungkuk, membuat lehernya sejajar dengan pundak Lia. Dia pelan-pelan mengikuti Lia maju ke depan. Baru kira-kira lima langkah, seseorang menyeret Ilham. Tubuh Lia berputar hampir kehilangan keseimbangan, sebelum akhirnya bisa meneguhkan badannya dengan hanya kaki kanannya.

Tiga orang berbadan kekar mengelilingi Ilham. Yang dua orang mencengkeram lengan Ilham di kiri kanannya, seraya menahan pundaknya. Satu orang mendaratkan kepalannya ke wajah Ilham. Sekali, dua kali, tiga kali.

“Sampeyan sok kaya tapi mau nipu orang ya.”

Ilham mengumpulkan kesadarannya. Pukulan orang di depannya sempat membuatnya linglung.

“Salah saya apa?”

“Sampeyan minum es klamud lima gelas nggak mbayar. Malah lari ke sini”

“Mama…aaf Pak, saya lupa. Istri saya hilang, saya panik. Saya bayar, tapi lepaskan dulu saya.”

Kedua orang itu melepaskan Ilham. Ilham mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya, lalu menyodorkannya ke pria depannya. Pria itu langsung mengantonginya tanpa mengatakan apa-apa.

“Maaf, kalo boleh tahu, rumah sakit atau puskesmas di mana ya.”

Ketiga orang itu saling menoleh, sebelum akhirnya salah satunya menjawab.

“Sampeyan liat jalan aspal itu? Nah, lurus terus ke utara ikuti jalan kira-kira satu kilo. Begitu ketemu minimarket, ada pertigaan, belok kiri. Kira-kira dua ratus meter ada praktik dokter.”

“Nggak dibawa ke tukang pijet aja mas?”

“Jauh nggak dari sini?”

“Ya lumayan, tiga kilo ada”

“Saya ke dokter dulu aja.”

“Monggo”

Ilham kembali kepada Lia yang tersenyum-senyum geli.

“Kamu gimana bisa lupa gitu?”

“Habisnya, kamu pergi nggak bilang-bilang”

“Ya maaf.”

Ilham kembali mengalungkan tangan Lia ke lehernya. Lalu, selangkah demi selangkah, ia menuntun Lia.

“Mas, mendhing mbaknya digendong aja tho, malah cepet.”

“Eh, apa?”

“Kasian mbaknya kesakitan gitu.”

“Oh, iya, makasih”

Ilham salah tingkah. Ia bingung harus berbuat apa. Akhirnya, ia berjongkok.

“Naik sini, Lia”

Lia sempat ragu, tapi akhirnya ia merangkul leher pria di depannya. Ilham berdiri menggendong Lia, memegang kedua kakinya erat-erat. “Mari Pak. Makasih atas semuanya.” Ketiga orang itu mengangguk menyambut sapaan Ilham.

Ilham berjalan mantap menggendong Lia ke puskesmas. Menurutnya, berat Lia hanya setara ransel gunung yang suka dibawanya bepergian. Padahal, ransel gunung paling berat hanya 25 kg. Langkahnya yang mantap dan panjang-panjang seolah-olah menafikan gaya gravitasi yang menarik tubuh Lia ke bumi.

Sepanjang perjalanan, mereka tak banyak bicara. Bahkan, lebih tepat kalau dikatakan tidak bicara sama sekali, hingga suatu ketika,

“Mas, kalau capek istirahat dulu gak papa lo”. Lia merasakan bahwa kaos yang dipakai Ilham kini mulai basah.

“Nggak kok”, jawab Ilham yakin.

Akan tetapi, bukan itu yang menjadi masalah bagi Lia. Dua puluh menit Ilham menggendong Lia sudah cukup untuk membuatnya mengeluarkan bau khas dari tubuhnya. Apalagi, Lia sedang menggelayut di punggungnya.

“Istirahat di depan situ aja gimana?”

“Bentar lagi juga sampai kok.”. Ilham tetap ngotot, sambil membetulkan posisi Lia yang kini mulai melorot.

Gagallah usaha Lia untuk mengistirahatkan hidungnya. Kini, pakaiannya juga turut basah.

“Oh ya, Lia, aku penasaran sama satu hal.” kali ini, Ilham mencoba sok akrab, setelah sikap irit bicaranya selama dalam perjalanan menggendong Lia.

“Apa itu?”

“Kita berjalan-jalan seharian di pantai. Tapi, tampaknya gak ada yang kenal sama kamu. Nggak ada yang ngerubutin kamu minta tanda tangan.”

Lia terkekeh geli. “Ya nggak gitu juga kali. Ya kadang-kadang pas jalan di supermarket ada yang iseng nyapa. Kadang, cuman diliatin aja dari jauh. Tapi, kebanyakan gak ngerti kalo aku ini Lia Komala.”

“Kok bisa gitu?”

“Kalo aku dandan full make up, terus pake pakaian yang rada wah gitu, ya baru orang ngeh. Kalo udah gitu, emang si artis pengen cari sensasi, pengen orang-orang tahu dia siapa pas lagi jalan.”

“Ooo”

“Ato, kalo nggak, karena walopun wajahnya nggak cantik atau ganteng, tapi saking khasnya orang langsung kenal mereka. Kayak Tukul Arwana gitu misalnya.”

“Aku penasaran aja. Padahal kamu cantik giitu, kok ada yang ngenalin kamu”

“Terima kasih.” jawab Lia dengan nada dimanis-maniskan.

“Eh, bukan gitu maksudnya.”

“Udah gak bisa ditarik lagi. Pokoknya terima kasih.” Dan, berakhirlah percakapan mereka. Kembali mereka melalui perjalanan yang penuh kesunyian.

Mereka tiba di dokter. Entah apa yang dilakukan dokter terhadap Lia. Ilham tidak ikut masuk. Keluar dari ruang periksa, kaki Lia sudah dibalut kain putih. Jalan Lia masih terpincang-pincang menahan sakit.

“Yuk, kita pulang.” Ilham kembali berjongkok di depan Lia. Kali ini, Lia melompat ke punggung Ilham. Sama dengan ketika mereka berangkat, mereka tak banyak bicara. Sampai akhirnya, Lia berceletuk,

“Kenapa kita nggak naik motor aja ya tadi ke sini?”

“Betul juga.”

“Ini kita mau jalan sampe tempat parkir juga?”

“Ide bagus!” Ilham menurunkan Lia. “Tunggu di sini, aku ambil motor dulu. Aku titip tasku.”

“Mas, tunggu bentar!” Akan tetapi, yang dipanggil tidak menyahut. Ia terburu-buru pergi. “Ya tapi, nggak begini juga kali. Masak aku ditinggal di depan kuburan. Walaupun masih sore, tetep aja serem.” gumam Lia sendirian.

Dasar Ilham!