Bab 5

“Lia, menurutku kita harus review ulang kesepakatan kita”. Lia yang sedang asyik menonton TV menoleh kepada Ilham, tertegun mendengar kata-kata itu.

“Maksud kamu? Kita tanda tangan itu berdua. Itu artinya kita dah sama-sama sepakat. Lagipula, kita sama-sama diuntungkan. Kamu tidak puas di mananya?”

“Bukan begitu. Tidak harus mengubah surat perjanjiannya, tapi paling tidak dengan obrolan ini, kita bisa bekerja sama dengan lebih baik lagi. Jadi kita tahu ekspektasi masing-masing dari ini. Terus, bisa saling menyesuaikan.”

“Emang kemarin-kemarin kenapa? Perasaan, gak ada yang salah deh.”

“Ehm, nggak juga. Beberapa kali kita sering nggak sepaham. Kita bakalan melakukan ini selama dua tahun. Jadi, menurutku kita perlu berkomunikasi lagi, menyamakan persepsi.”

“Jadi, kamu maunya apa?”

“Engg…, coba kita lihat satu-satu isi surat perjanjian kita.” Ilham menaruh surat perjanjian yang sejak tadi dipegangnya di atas meja, kemudian mulai membaca pasal-pasal di selembar kertas itu.

“Selama dua tahun pertama pernikahan, perceraian hanya bisa dilakukan dengan kesepakatan kedua belah pihak yang ditandai surat pernyataan yang ditandatangani kedua belah pihak. Lia, apakah ini tidak terlalu ketat menurutmu? Bagaimana kalo kamu sendiri yang ingin cerai?”

“Dua tahun adalah waktu yang aku butuhin untuk menstabilkan karir aku. Aku gak mau bikin gosip kalo tiba-tiba kita bercerai setelah 6 bulan, misalnya. Setelah dua tahun, aku bakalan langsung ceraikan kamu”

“OK, terserah kamu. Yang kedua, kedua belah pihak tidak boleh bermesraan dengan lawan jenis yang bukan keluarganya di tempat umum atau diketahui oleh umum, yang termasuk di antaranya namun tidak terbatas kepada: berciuman, berpelukan, bergandengan tangan, atau hal lain yang sejenis yang mengesankan ketidaksetiaan di mata umum. Denda bagi pihak pelanggar adalah 5 milyar rupiah, dan pihak lain berhak memutuskan cerai secara sepihak di hari itu juga. Kamu nggak ada masalah sama ini?”

“Masalah yang gimana maksudnya?”

“Ya…, misalnya gimana kalo aku suka sama seseorang misalnya…”

“Tunggu dua tahun lah.”

“Bagaimana bisa? Keburu nikah sama orang lain entar dia.”

“Bukan urusanku. Ingat ya, kamu dah kukasih 10 milyar. Lagipula, kamu kan masih bisa chattingan. Atau ketemu di tempat sepi kek. Yang penting jangan sampai ketahuan.”

“Bagaimana dengan Dimas? Kamu masih ketemuan sama dia?”

“Bukan urusanmu.”

“Tentu saja ini urusanku. Kalau kalian tidak hati-hati dan aku menangkap basah kalian, aku akan keluar dari rumah ini mengantongi 15 milyar”

“Nggak akan!”

“Baiklah kalau begitu. OK, lanjut ya. Kedua belah pihak bebas menceraikan pihak lain secara sepihak dengan alasan apapun setelah melampaui dua tahun usia pernikahan, dengan menandatangani surat pernyataan bercerai. Aku gak ada masalah soal ini. Kamu?”

“Aku juga.”

“Trus yang ini. Di muka umum, kedua belah pihak harus menunjukkan kemesraan mereka, yang ditandai oleh namun tidak terbatas pada: berpelukan, berciuman, bergandengan tangan, atau hal lain yang mengesankan keharmonisan pasangan menikah. Ini gimana?”

“Gimana apanya?”

“Aku belum pernah pacaran.”

“Ya tinggal kamu ikutin aku aja. Gampang lah nanti.”

Ilham manggut-manggut.

“Setiap harta yang diperoleh dalam pernikahan ini menjadi milik masing-masing pihak yang memperolehnya. Ini sudah jelas. Tidak perlu dibahas lagi.”

“Dah, kan? Nggak ada yang aneh? Itu surat dah aku bikin sesimpel mungkin. Apalagi yang kurang emangnya?”

“Jadi gini…”. Kata-kata Ilham terhenti, dia masih mencari cara menyampaikan hal ini dengan tepat. “Terlepas dari perjanjian ini, aku merasa, kemarin-kemarin itu, kerjasama kita kurang bagus. Maksudnya gini… , tadinya aku berpikir kamu sudah menghancurkan hidupku. Makanya sejak awal aku membencimu dan sering berkata kasar ke kamu. Setelah dipikir-pikir, aku rasa pernikahan ini tidak seburuk itu. Apa yang kulakukan sebelum ini agak keterlaluan. Ke depan, aku nggak akan kasar lagi, atau ngatain kamu ini itu. Dua tahun waktu yang panjang. Aku ingin kita berteman.”

Lia tidak menanggapi. Dia hanya memandangi Ilham sambil mengerutkan dahi. Beberapa saat kemudian ia berkata, “Jadi, panjang-panjang bahas surat perjanjian cuman buat ngomongin ini?”

“Kan, ini saling berkaitan.”

“Kamu naksir aku ya?”, goda Lia sambil tersenyum.

“Yang bener aja! Kamu bukan tipeku.” tegas Ilham cepat-cepat.

“Baguslah. Karena kamu jelas bukan tipeku juga”

“OK, serius dikit. Jadi ini gimana?”

Lia berdehem mencoba membersihkan tenggorokannya.

“Soal itu, aku juga minta maaf sama kamu. Aku tahu nikah itu hal besar dan seharusnya gak boleh dipake main-main. Cuman, ya lagi-lagi waktu itu aku cuman kepikirin cara ini.”

“Tidak masalah. Lagipula kamu sudah ngasih aku 10 milyar. Sudah seharusnya kita bekerja sama dengan baik, kan?”

“Iya”

“Deal?” Ilham mengulurkan tangannya kepada Lia.

“Deal!” Lia menyambut uluran tangan Ilham.

Jadilah sejak hari itu mereka berteman. Teman tapi menikah. Menikah tapi pura-pura. Pura-pura tapi akad sungguhan. Ah, entahlah. Yang jelas, hari pertama mereka “berteman” ditandai dengan mereka menonton TV bersama. Singgasana ruang tengah yang biasanya dikuasai Lia, kini ada Ilham di sana. Entah apa yang ada di pikiran Ilham. Mungkin karena dia sejatinya jarang punya teman. Apalagi seorang teman perempuan. Apalagi tinggal serumah. Ya, tampaknya, bagi Ilham Lia bagaikan teman sekos atau semacamnya. Bagaikan sepasang kelelawar yang tinggal di gua yang sama ketika terjadi paceklik makanan. Setiap kali kelelawar yang satu mendapatkan makanan, dia akan membagi kelebihan makanannya kepada temannya. Begitu juga sebaliknya di hari yang lain. Mereka harus bertahan hidup bersama, maka mereka berbuat baik terhadap yang lain. Simbiosis mutualisme.

“Lia, akhir-akhir ini kayaknya kamu mulai sibuk lagi ya? Biasanya, paling kamu seminggu dua kali pergi dijemput Deri. Ini kamu hampir tiap hari pergi.”

“Ooh, itu soalnya aku sekarang dapet job baru. Jadi pemandu acara reality show.”

“Oh ya? Asyik tuh kayaknya. Reality show apa?”

“Nama acaranya Aku Tetap Tabah. Jadi entar tiap minggu ada keluarga miskin gitu, terus nanti kita sorot kehidupan mereka. Terus nanti di akhir acara, mereka akan dapat bantuan.”

“Kayaknya menarik.”

“Iya, tapi ini masih pilot project statusnya. Dicoba dulu selama 10 episode seminggu sekali. Kalo penonton suka, baru diterusin. Malah kalo ratingnya tinggi banget katanya bisa jadi malah ditambah jadi dua kali tayang.”

“Acara gini biasanya tiap episode dapet berapa?”

“Ngapain tanya-tanya? Mau minta?”

“Enggak, soalnya kayaknya pekerjaannya enak. Kamu gak perlu susah-susah belajar akting. Asal ngomong di depan kamera beres. Iya kan?”

Lia melotot ke arah Ilham.

“Lho memang iya kan? Salahku di mana coba?”

“Dah ah, kamu pergi sana. Ganggu orang nonton TV aja.”

“Kan katanya sekarang kita temenan. Wajar dong kalo saling tahu kegiatan masing-masing.”

“Nggak perlu! Aku juga nggak peduli mas kerjanya ngapain aja.”

“Tapi aku pengen tahu.”

“Bodo ah.”

“Kok gitu?”

“Iih, nyebelin bener deh. Pokoknya mas keluar sekarang!”. Tak sabar, Lia menarik Ilham bangkit dari sofa. Didorongnya Ilham sekuat tenaga keluar dari ruang tengah. Lia membanting pintu di depan Ilham. Cklek, cklek. Lia mengunci pintu, dua kali. Ilham hanya bisa bengong di depan pintu yang terkunci, bingung tak tahu salah dia apa.

Dan, itulah pertama dan terakhir kalinya Ilham mencoba sok akrab pada Lia, ralat, pada orang lain. Lia dan Ilham kembali kepada kesibukan mereka masing-masing. Mereka kembali asing. Lalu, apakah gunanya semua percakapan tadi? Bahkan Ilham sendiri juga tidak paham. Mungkin saja, itu adalah sebuah usaha berdamai kepada induk semang. Atau mungkin, itu adalah sebuah ungkapan terima kasih, baik atas tempat hidup yang tak berbiaya, atau atas sejumlah uang. Mungkin, gabungan dari kesemuanya itu. Ataukah sebenarnya itu sesuatu yang lain? Ilham tak sadar, juga tak mengerti.

Beberapa hari kemudian, Ilham sudah kembali kepada kesibukannya. Bahkan mungkin dia sudah lupa sama Lia. Yang jelas, hari ini Ilham sedang on fire. Sayangnya, on fire yang kali ini bukan dalam artian yang sepenuhnya positif. Jari-jari Ilham menari-nari lincah di atas keyboard. Di depannya, dua layar 24 inch berdampingan. Yang satu tegak, yang lain mendatar. Sebuah perpaduan yang membuat kesal orang-orang yang menyukai simetri. Tapi, bagi Ilham, yang paling utama adalah workflow. Rangkaian huruf mengalir lancar di layar tegak seirama dengan ketikannya. Sementara di layar mendatar, yang terlihat hanyalah terminal, terminal, dan terminal. Jendela-jendela hitam dengan huruf-huruf warna-warni. Huruf-huruf di sebagian terminal bergerak cepat ke atas, disusul huruf-huruf baru dari bawah. Tiba-tiba, salah satu terminal mencetak tulisan merah. Ilham menepuk keras sisi keyboard. Mousenya mengklik gambar telepon.

“Fandi, ke sini bentar bisa nggak?”

“Ada apa pak?”

“Ke sini aja dulu.”

“OK pak”

“Oh ya, Yono, Eko, dan Ayu suruh ke sini sekalian”

“Siap pak.”

Dada Fandi berdebar kencang. Pak Ilham menghubunginya. Tidak cukup dengan chat saja, tapi langsung call. Kesalahan apa lagi yang kini dibuatnya?

“Yon, Ko, dipanggil bos tuh, kita suruh ke sana.”

“Satu menit, gue ke toilet dulu.” Yono buru-buru beranjak dari tempatnya.

“Ah, padahal lagi asyik ini ngerjain fitur. Bubar deh pagi gue yang indah.”

Ilham menghela nafas. Dia mengetuk-ngetuk mouse-nya tak sabar. Pandangannya memelototi terminal bertulisan merah tadi. Sejurus kemudian, Ilham beralih ke sebuah dashboard dengan grafik dan angka-angka. “Test coverage cuma 25%? Last sucessful build, … 2 minggu lalu? What the f…?”

Keempat insinyur perangkat lunak itu berdiri menunduk di hadapan Ilham. Sementara itu, Ilham meneguk Cappucino Double Shot di tangannya dengan tenang. Setelah pelan-pelan meletakkan gelas di tangannya, Ilham mulai berbicara,

“Fandi, kamu kerja di sini berapa tahun?”

“Tiga tahun, pak”

“Kamu sekarang jabatannya apa?”

“Senior Developer Pak”

“Kamu tahu, ekspektasi untuk Senior Developer itu apa?”

“Saya nggak hafal pak.”

“Cari di website. Career ladder kita terbuka kok”.

Fandi meraih HP-nya demi untuk menjawab pertanyaan Ilham

“Leading the team on technical aspects of the project. Ensure other team members to follow company best practices, such as coding standards and test-driven development. Design software according to clean architecture principles. Itu pak.”

“Kamu tahu salah kamu apa sekarang?”

“Tahu pak.”

“Apa?”

“Project kami belum memenuhi standar best practices Pak.”

“Belum memenuhi? Belum memenuhi kamu bilang?! Kamu bahkan tidak peduli! Test coverage 25%. Ini sama aja kamu nggak ngetes. Yang penting kodemu jalan. Itu pun, kamu tidak pass 100%. Ngetes asal-asalan dan masih aja tidak semuanya lolos!”

“Maaf Pak.”

“Kalian kerja mikir nggak sih? Dulu saya yang initate ini project. Automated tests, CI/CD, semuanya saya yang setup. Kalian tinggal nerusin aja, apa susahnya sih? Setengah tahun lalu, terakhir saya pegang, project ini masih baik-baik saja. Semua tesnya ijo. Coverage 70%. Hari ini saya iseng check out project ini. Dan, semuanya jadi amburadul begini!”

“Maaf pak. Permintaan fitur dari klien banyak banget. Kami jadi harus berubah banyak. Tidak sempat untuk melakukan testing yang menyeluruh.”

“Kalian ngerjain banyak fitur tapi nggak dites? Goblok semua! Fitur yang nggak dites artinya fitur yang nggak jalan. Berapa kali saya bilang, kalo kalian pengen demo ke client bisa mulus, paling tidak code coverage harus nyampe 70%. Kamu akan yakin kalo kodemu bisa jalan bener kalo kamu ngetes.”

“Kami ngetes kok Pak.” tiba-tiba Ayu menyahut.

“Oh ya?”

“Sebelum saya push ke server, saya selalu pastikan kodenya jalan di komputer saya.”

“Fandi, kamu dapat dari mana cewek bego kayak gini?”

“Maaf Pak. Saya tidak suka Bapak ngerendahin cewek seperti saya. Cewek juga berhak dihargai sama kayak cowok, Pak”

“Oh, begitu?” Ilham tersenyum sinis. “Kita punya feminis di sini rupanya. Baiklah mbak feminis, ceritakan apa yang anda kerjakan selama satu bulan terakhir.”

“Saya ngerjain bagian profile management pak.”

“Sebulan ngerjain itu thok?”

“Sama bagian push notification pak. Ada bug di situ, sudah seminggu saya cari, masih belum ketemu akar masalahnya.”

“Profile management CRUD doang kan? Ini dikerjain anak SMP juga 3 hari selesai. Gak butuh kamu buat ngerjain. Apalagi sampe 3 minggu.”

“Tapi, Pak…”

“Kode kamu yang push notification mana? Ini di file Notification.cs?”

“Eh, iya betul Pak”

“Busuk banget gini API-nya. Kamu ngajarin junior kamu gimana sih Ndi?”

Kali ini, Ayu diam tidak membantah. Dia hanya bisa mematung di depan Ilham yang segera sibuk mengetik di laptopnya, sambil sesekali keluar sumpah serapah dari mulutnya. Setengah jam kemudian, mereka berempat masih berdiri di ruangan Ilham. Tidak ada yang berani membuka suara. Wajah mereka semua tegang.

“Ayu, kamu bilang butuh seminggu buat benerin bug ini? Kodemu saya rewrite. Sekarang tesnya ijo semua.”

Mata Ayu hanya bisa membelalak.

“Kamu ngapain bikin beginian bisa sampe 500 baris? Padahal 100 baris aja selesai.”

Ayu masih terdiam.

“Jadi begini, mbak feminis, saya nggak peduli kalian itu cewek, cowok, atau hantu sekalipun. Yang penting kalian bisa kerja. Dan, terutama kamu, kalo kamu lebih banyak menghabiskan waktu untuk mikirin kerja daripada untuk mikirin dandan, kamu gak akan butuh waktu seminggu cuman buat yang kayak gini.”

“Maaf, Pak…”

“Kamu tersinggung saya bilang suka dandan? Liat yang kamu pake sekarang. Rok di atas lutut, make up tebal, baju nggak ada lengannya, kamu mau kerja atau mau clubbing? Kalo kamu memang pengen dihargai karena kemampuan kamu, maka seharusnya yang ditonjolkan adalah otak kamu, bukan penampilan kamu. Harus diakui, penampilan kamu boleh juga, tapi kontribusi kamu, I think you are much worse than not contributing at all. Lain kali, kalo kamu mau bawa-bawa feminisme lagi, kerja yang bener. Minggu depan, saya mau coverage jadi naik sampai 70%. Terus Fandi, besok kamu kasih ke saya desain yang kamu buat untuk project ini.”

Mereka berempat keluar dengan lesu dari ruangan Ilham.

“Yu, lain kali kalo meeting sama Pak Ilham, mending lo diem deh. Kena batunya kan?” Fandi memperingatkan Ayu.

“Misi, gue mau ke toilet bentar.” Ayu berjalan cepat-cepat meninggalkan mereka, sambil menghapus air mata yang menetes ke pipinya.

“Ah, Fandi kan.. Nangis tuh dia.” Yono menyalahkan Fandi

“Eh, bukan gue. Emang Pak Ilhamnya sadis banget tadi.”

“Yah, lembur deh malem ini.”

“Ah, elo, masih ngeluh aja. Gue masih ada meeting susulan nih besok. Bisa-bisa malem ini gue gak tidur.”

Ilham adalah satu dari tiga Senior Principal Developer di kantornya, XYZ Solutions. Sebuah jabatan yang hanya setingkat lebih rendah dari CTO. Tidak ada manajer yang bisa mengatur dia, karena mereka sejajar dengannya. Kebebasan tak terbatas dengan tanggung jawab yang rendah memang cocok untuk orang seperti dia. Kantornya memang bukan perusahaan Unicorn, tapi dia jauh lebih suka bekerja di sini. Para atasan percaya penuh dengannya, sementara orang-orang di bawahnya menghindarinya. Satu tim dengan Ilham berarti neraka.

Waktu menunjukkan jam dua pagi. Ilham berdiri di depan pintu rumah Lia, yang sekarang terpaksa menjadi rumahnya. Senyum kelegaan mengembang dari bibirnya. Sepertinya, ia sedang bahagia. Tidak tahu apakah itu karena dia tadi berhasil memotivasi timnya dengan baik, atau karena dia puas menyiksa junior-junior malasnya. Mereka harus diberikan masalah yang menantang supaya bisa tumbuh menjadi software engineer yang baik. Itulah alasan yang selalu diucapkan Ilham pada dirinya sendiri. Tanpa kerja keras, orang akan menjadi lemah.

Ilham meraih gagang pintu di depannya. Belum sempat tangannya mencapainya, tiba-tiba si pintu sudah terbuka dengan sendirinya.

“Kamu dari tadi bengong di depan pintu ngapain sih?”, kata Lia sambil berkacak pinggang. Alisnya berkerut.

Ilham terkejut. Tapi, bukannya menjawab, dia justru menatap Lia. Satu detik, dua detik, lima detik? Ah, tidak. Mungkin lebih. Tanpa sadar, mulutnya ternganga.

“Kamu liatin apa sih?” Lia melambaikan tangannya ke wajah Ilham. Ilham berkedip.

“Aku cantik yah? Makasih…” kata Lia genit sambil menyeka poni rambutnya.

“Bukan!” Ilham menukas cepat-cepat. “Anu… aku cuma kepikiran kerjaan kantor aja.”

“Kamu tuh udah pulang jam 2 pagi, sampai rumah masih mikirin kerjaan lagi. Bisa gila lama-lama lo. Dah, cepet buruan masuk! Ngantuk nih!”

“I..iya..” Ilham buru-buru memasuki rumah, lurus langsung naik menuju kamarnya.

Sementara itu, gantian Lia yang bengong melihat tingkah laku Ilham. Namun, itu cuma sebentar saja. Kantuknya mengalahkan rasa penasarannya akan tindakan aneh ilham.

Di dalam kamar, sudah semenjak satu setengah jam yang lalu Ilham hanya duduk di atas dipannya. Jantungnya berdebar-debar mengingat apa yang terjadi baru saja. Mengapa baru sekarang? Kok bisa dia? Itulah dua pertanyaan yang berulang-ulang mengganggu pikirannya. Pikiran yang tidak henti-hentinya membayangkan Lia membuka pintu untuknya dengan piyama putihnya, dengan rambut lurus hitam lebat dikuncir ke belakang. Dengan paras cantiknya, Lia tersenyum kepadanya sambil bilang, “Mas kok baru pulang?”. Tentu saja kalimat terakhir ini bohong. Tapi, mau bagaimana lagi? Ingatan orang yang suasana hatinya sedang kacau sering mengalami distorsi.

“Ini pasti godaan. Orang yang harusnya aku cintai adalah perempuan shalihah seperti Tiara. Wajar kalau aku memendam rindu kepadanya selama sepuluh tahun hingga hari ini. Kalau aku tidak mengendalikan godaan ini, dia akan menyeretku ke dalam kehidupannya yang penuh maksiat itu.” Begitu batin Ilham, berusaha meyakinkan dirinya.

“Ya apa salahnya sih suka sama isteri sendiri? Mumpung cantik juga?”. Batin Ilham sesaat kemudian berkata lain. Entah itu sebenarnya batin yang sama atau berbeda.

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Kamu mau menyatakan perasaanmu ke dia? Memangnya dia mau sama kamu? Ingat, kamu itu cuma suami bayaran. Kamu bukan apa-apa buat dia.” Batin yang satu lagi, yang entah yang mana, lagi-lagi membantah.

“Trus, kamu bakalan hidup menyiksa diri lagi gitu? Ketika kamu putus sama Tiara, kalian nggak pernah kontak lagi. Sementara sekarang, kamu harus memendam rindu sama orang yang ada di samping kamu. Ayolah, hidup cuma sekali.”

“Baiklah, katakanlah dia mau menerima perasaan kamu. Apakah kamu yakin kalian bisa bahagia? Prinsip hidup kalian sangat berbeda. Sudahlah, jalani saja kontrak itu, lalu tinggalkan dan lupakan Lia.”

Pendapat batin yang terakhir inilah yang kemudian membuat Ilham termenung. Malam itu, tanpa bisa lepas dari bayang-bayang Lia yang sebenarnya cuma beberapa meter darinya, berkali-kali Ilham menghela nafasnya. Matanya memerah, wajahnya meredup.