Bab 6

Di suatu malam, di depan rumah Lia, seseorang mengetuk pintu. Ini membuat Lia bertanya-tanya. Jelas itu bukan Ilham, JIka itu dia, buat apa mengetuk pintu? Dia pasti akan langsung masuk. Dengan penasaran, Lia memutuskan untuk membuka pintu depan.

“Lia, …”

Lia buru-buru kembali menutup pintu. Akan tetapi terlambat, pria di depannya lebih sigap. Ia mengganjal pintu itu dengan sepatu. Lia mendorong sekuat tenaga, tapi tak berdaya. Ia menendang sepatu di ujung pintu, tapi percuma saja. Pria itu membuka pintu dengan paksa, membuatnya terdorong beberapa langkah ke belakang.

“Mau apa kamu? Pergi!” Lia membentak tamunya.

“Lia, dengerin dulu.” Pria itu memaksa. Ia tak bisa diusir begitu saja.

“Dimas, kita sudah putus!”

“Dengar dulu! Pertunanganku batal.”

“Bukan urusanku. Aku sudah menikah.”

“Itu cuman pura-pura, ya kan?”

“Kami nikah beneran.”

“Aku nggak percaya.”

“Terserah kalo nggak percaya.”

“Lia, aku gak bisa ngelupain kamu.”

“Terlambat mas.”

“Pasti ada jalan, Lia. Tapi, plis kamu jangan gini sama aku.”

“Lalu, mau kamu gimana? Kita selingkuh di belakang suamiku, gitu?”

“Dia cuman suami pura-pura!”

“Setidaknya dia lebih baik dari kamu.”

“Apa hebatnya pegawai miskin kayak dia?”

“Setidaknya, uangnya hasil jerih payahnya sendiri.”

“Lia, plis jangan begini sayang. Kamu masih sayang aku kan?” Dimas meraih tangan Lia.

“Tidak.” Lia berusaha menarik tangannya, namun Dimas tak mau melepaskannya.

“Ceraikan dia, lalu kita menikah.”

“Karirku sedang bagus-bagusnya. Aku nggak mau ngerusak itu”

“Kamu nggak perlu khawatir soal uang.” Dimas membelai rambut Lia.

“Gimana dengan papa kamu?”

“Kita menikah diam-diam. Aku akan cari cara ngomong ke papa.”

“Enggak, Dimas! Aku nggak mau!”

“Lia, aku sayang kamu.” Dimas memegang kedua lengan Lia

“Lepas, Dimas!” Lia mencoba meronta. Namun, kedua tangan Dimas terlalu kuat untuknya. “Dimas, sakit!” Lia kembali berteriak, namun Dimas mengacuhkannya. Dimas tidak berhenti di situ. Dia mendorong Lia ke sofa. Lia melotot marah, namun kemudian memejamkan mata, melengos. Wajah Dimas semakin dekat dengannya.

Sebuah hentakan kuat menjungkalkan Dimas ke belakang. Lia bertanya-tanya, mengapa tangan Dimas yang mencengkeramnya tiba-tiba terlepas. Ketika membuka matanya, dia melihat Ilham menyerang Dimas dengan ganas. Mula-mula kepalannya menghantam wajah Dimas. Dimas langsung tersungkur. Ilham tidak puas. Kali ini kakinya yang bergerak, menendang dan menginjak perut Dimas, tanpa henti.

“Mas Ilham, udah mas!” Lia menarik lengan Ilham dengan kedua tangannya. “Kalo dia mati di sini, kamu bakalan masuk penjara. Biarkan dia pergi.” Mendengar kata-kata Lia, Ilham terhenti. Dia baru menyadari apa yang telah diperbuatnya.

“Dimas, cepat pergi!”

Dimas perlahan-lahan bangkit. Tangannya memegangi perutnya. “Kalian akan kubalas.”

“Pergi!” Lia kembali berteriak

Dimas berjalan tertatih-tatih meninggalkan mereka. Begitu Dimas melewati pintu depan, Lia beranjak cepat menuju pintu itu, menutupnya dan menguncinya dua kali. Lia terduduk. Mulutnya mengeluarkan hembusan nafas lega.

“Makasih mas. Kalo nggak ada kamu, entah gimana tadi.”

Ilham cuma terdiam. Wajahnya menunduk.

“Tapi, kamu tadi kenapa sampe ngamuk gitu?”

“Nggak tau. Aku marah aja liat dia begitu sama kamu..”

“Iya, tapi tadi mas kayak mau bunuh dia.”

“Nggak ngerti. Mungkin…, aku suka sama kamu.” pelan-pelan sekali Ilham menjawab Lia.

“Apa mas?”

“Aku suka kamu Lia!”

Lia terdiam. Dia tidak menyangka kata-kata itu akan muncul dari mulut Ilham.

“Aku sendiri bingung kenapa. Kamu inget waktu kamu bukain aku pintu pagi bitu itu kan? Saat itu, aku merasa… kamu… kamu.. cantik sekali. Aku… jatuh cinta. Aku tidak tahu, mengapa perasaan ini datang bukan saat kita pertama kali ketemu. Aku juga nggak begini waktu kita jalan-jalan di pantai kemarin. Tadinya aku berpikir, ini cuman emosi sesaat aja. Mungkin karena kita tinggal bersama. Tapi, sampai sekarang aku masih mikirin kamu. Setiap saat.”

Lia masih tidak mengatakan apa-apa.

“Aku sebenarnya nggak pengen begini. Kamu bukan tipe idealku. Tapi, … nggak tau lah. Sebelum ini, wanita yang selalu yang selalu ada di pikiranku adalah Tiara. Sepuluh tahun aku nggak bisa melupakan dia! Sepuluh tahun, Lia! Sekarang, hanya kamu yang memenuhi pikiranku.”

Lia menghela nafas. Pandangannya tertuju pada Ilham yang tertunduk sambil memegangi kepalanya. Hingga beberapa menit kemudian, mereka masih tak saling bicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.

“Terus, rencana kamu apa?” Akhirnya Lia memulai berbicara.

Ilham menoleh ke arah Lia. Mereka saling beradu pandang. “Aku ingin kita bercerai.”

“Eh, apa?”

“Aku akan kembalikan semua uang kamu. Dibanding siksaan ini, uang itu tidak seberapa. Aku bisa hidup tanpa 10 milyar. Tapi aku tidak bisa hidup tersiksa begini.”

“Mas, kita baru nikah 2 bulan! Masih ada 22 bulan lagi.”

“Aku tahu! Tapi, aku nggak bisa, Lia.”

“Nggak mau! Sia-sia dong aku susah payah begini. Pokoknya nggak.”

“Lia…”

“Gimana kalo mas tenangin diri dulu? Tunggu barang sebulan atau dua bulan, gitu. Barangkali bener kata mas, itu cuman emosi sesaat aja. Bisa aja dua minggu nggak cukup. Tapi, setelah dua bulan, Mas akan biasa lagi sama aku.”

“Lia, selama dua minggu aku terus memikirkan hal ini. Ketika pertama kali perasaan ini muncul, aku bahkan sempat ingin kita benar-benar jadi suami istri. Aku bahkan berdoa agar kamu jatuh cinta padaku.”

“Mas, kamu lagi bingung. Aku bilang, kamu harus tenang dulu. Aku nggak akan suka sama mas dan kita nggak mungkin jadi suami istri beneran.”

“Aku tahu! Tapi, …”

“Aku mau ngomong sesuatu. Tapi kamu jangan tersinggung ya?”

Ilham mengangguk.

“Aku nggak suka sama orang yang Islamnya fanatik.” Lia berhenti sebentar, kemudian dia meneruskan, “Mas dan keluarga mas orangnya fanatik. Jangan salah! Aku nggak benci kalian. Cuman lifestyle kalian beda aja.”

Ilham menatap Lia bingung.

“Aku tahu kalian cuman pengan ngejalanin agama secara bener. Cuman setiap kali aku liat orang hijrah, mereka jadi keras dan kaku. Mereka nggak mau temenan sama yang agamanya lain. Sama temen yang lain juga jadi jauh. Mereka gaul cuman di antara mereka sendiri. Kalaupun mereka ramah sama orang lain, beda. Kayak gak tulus. Kalo nggak, ramahnya kayak sama anak kecil. Seolah-olah, kita beda kasta sama mereka.”

“Kamu salah, Lia.”

“Mas juga seperti itu! Mas bilang, aku bukan tipe mas. Tapi sebenernya, mas mau bilang kalo aku gak pantes untuk Mas kan?”

Ilham hanya memandang Lia.

“Kalau emang Mas nganggep aku pantas untuk Mas, Mas nggak akan minta cerai. Mas akan bersyukur dan bukannya frustasi. Jadi, jangan pernah punya ide lagi kalo kita bakalan jadi suami istri sungguhan.”

Ilham menunduk. Lia menatap Ilham tajam. Dia berkata lagi, “Aku percaya Tuhan itu penyayang. Tapi nyatanya, makin rajin sholat dan baca Quran, orang jadi makin gampang benci sama orang lain. Kalau memang begitu, aku nggak mau jadi orang Islam yang taat. Biarlah aku begini, yang penting aku nggak gampang benci sama orang lain.”

Ilham mendongak, matanya memandang Lia sayu. “Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Lia”

“Tidak, Mas. Percaya sama aku. Kalopun kita sama-sama cinta, kita nggak mungkin bahagia. Tiap hari, kamu bakalan nyuruh aku sholat dan pake jilbab. Mungkin kamu bakalan ngelarang aku jadi artis. Aku bakalan nolak semua permintaan kamu. Kamu sedih, aku juga sedih. Kita bakalan saling menyakiti. Belum lagi kalo kita punya anak.”

Ilham menghela nafas panjang mendengar penjelasan Lia.

“Aku yakin banget itu cuman emosi sesaat kamu. Bentar lagi juga kamu lupa sama aku, Mas.”

“OK. Kalo begitu, aku akan berusaha melupakan kamu. Selama dua bulan, aku akan menghindari kamu, supaya aku lebih mudah menghilangkan perasaan ini.”

Lia mengangguk.


Seorang laki-laki berambut keriting dan tidak terlalu tinggi menghampiri Ilham. Irfan namanya. Anak marketing ini memang cukup dekat dengan Ilham. Maklum, beberapa kali mereka presentasi bersama di hadapan klien. Dan, Ilham lah yang seringkali menyelamatkannya kalau ada pertanyaan-pertanyaan sulit datang dari klien. Walaupun sebenarnya Ilham itu paling malas kalau diajak bertemu klien. Tapi, untuk urusan produk-produk baru, tidak bisa tidak dia harus menyeret Ilham. Bagaimana tidak? Kebanyakan produk baru itu rancangan Ilham. Dan, setiap kali dia harus mengajak Ilham, dia harus main bujuk paksa. Pernah suatu ketika, Ilham beralasan dia punya deadline project lain. Jadilah si Irfan ditatar sepanjang siang hingga sore. Irfannya mabuk, presentasinya gagal. Pak CEO marah-marah, mereka berdua kena damprat.

“Lo makan siang di mana?” tanya Irfan kepada Ilham.

“Nggak, aku skip dulu Fan”

“Widih, tumben-tumbenan. Diet?”

“Nggak, aku lagi puasa Daud”

“Buset! Dalam rangka apa nih? Lo punya nazar?”

“Bukan, aku cuman pengen puasa aja.”

“Mana ada, cuman pengen kok tiba-tiba langsung Daud?”

“Udah ya, aku mau ngegame dulu. Satu match gak cukup nanti.”

“Jiah, gak ngajak-ngajak. Tungguin gue makan siang kenapa?”

“Nggak mau. Aku banyak kerjaan.”

“Gitu dia. Ya udah, gue makan dulu bareng temen-temen”

“Ya.”

Ilham memandangi layar laptopnya yang masih menunjukkan lingkaran berputar-putar. Tangannya mengetuk-ngetuk meja tak sabar. Sudah lebih dari setengah menit, tapi tidak ada tanda-tanda game akan segera dimulai. Tiga menit lebih sedikit, akhirnya Ilham sudah disandingkan dengan kawan-kawan main yang entah dari mana. Mereka akan melawan orang-orang yang juga tidak diketahui asalnya. Mulailah Ilham memilih karakter. Tank, DPS, Healer, Magic, Ilham terus saja mengklik tombol Next tanpa henti. ‘Hoi, cepetan dikit, bgst’. Salah satu kawannya mengetik dalam chat box. ‘OK’ ketik Ilham beberapa detik kemudian. Tapi, ketika dia kembali memilih karakter, mood-nya sudah hilang. Dia mengetik di chat box, ‘AFK’. Lalu dia langsung keluar begitu saja dari game. Ilham tahu dia sedang dalam competitive ranked match. Dia tahu kalau mereka bakalan mengeluarkan segala macam sumpah serapah. Tidak hanya itu, dia pasti dihukum selama 3 bulan tidak bisa main ranked match. Tapi Ilham tidak peduli. Bukan itu yang penting baginya saat ini.

Ilham membuka browser. Diketiknya di mesin pencari, ‘Lia Komala’. Dalam sekejap, mesin pencari sudah menunjukkan hasil. Namun, Ilham bukannya senang. “F**K, apa yang sedang kulakukan?!” Dia buru-buru menutup satu-satunya tab di browser itu. Dihempaskannya badannya ke sandaran kursi. Ilham menutup matanya, menarik nafas panjang, kemudian bergumam kesal, “Why?”. Pelan-pelan Ilham membuka kembali browser-nya. Kali ini dia mengetik di mesin pencari, ‘Lia Komala’. Ya, tetap kata kunci yang sama. Dan juga, kegiatan yang sama, seperti di hari-hari sebelumnya selama dua bulan ini.

Malam mulai gelap. Ilham belum pulang. Ilham masih memandangi layar tegak di depannya. Sedari tadi, roda tetikusnya digerakkan naik dan turun. Berulang-ulang. Lagi-lagi ia menghela nafas panjang. Jarinya memulai mengetikkan sesuatu, tapi kemudian dihapusnya lagi. Tiba-tiba, di kanan bawah layarnya muncul bulatan merah. Ketika penunjuk tetikusnya mengarah ke bulatan tersebut, muncul balon bertuliskan, “Ham, prototype service composernya sudah jadi belum? Minggu depan gw mau presentasi sama client.” Ilham menandai balon itu “sudah dibaca”. Pandangannya kembali beralih ke layar. Tangan kanannya memijit-mijit bagian atas hidungnya. “Nggak tau lah!” Ilham berdiri dalam sekejap, kemudian memencet kasar tombor power di laptop-nya. Menarik tasnya, ia meninggalkan meja kerjanya.

“Mas, sudah pulang?” basa-basi Lia ketika mendengar pintu depan dibanting. Ilham tidak menjawab. Wajahnya yang suram bahkan tidak menoleh kepada Lia. Ilham langsung naik ke atas, masuk ke kamarnya. Terdengar pintu kamar dikunci, dua kali. Lia yang sebal melihat ulah Ilham, tidak mau membiarkan kejadian ini begitu saja. Lia naik mengetuk pintu kamar Ilham, “Mas, buka pintunya!” Tidak ada tanggapan dari dalam. Lia kembali mengulangi ketukannya, kali ini lebih keras, “Mas!” Akhirnya pintu itu mau terbuka juga.

“Ada apa?” tanya Ilham datar.

“Itu tadi apaan?”

“Itu apa?”

Lia menghela nafas. “Kamu bisa gak sih mas, agak normal dikit sama aku? Aku tahu kita jadi aneh semenjak Dimas ke sini. Tapi, kita tinggal serumah Mas. Kamu mau terus-terusan kayak gini?”

“Maaf.”

“Dah? Gitu doang?”

“Maaf, aku lagi-lagi kasar sama kamu.”

“Trus?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Trus, maksud mas gimana?”

“Lia! Cukup! OK? Aku sudah coba semampuku. Tapi, semakin aku berusaha melupakan kamu, semakin perasaanku ke kamu bertambah kuat. Aku bukan marah sama kamu. Aku marah sama diriku sendiri.”

Lia terperanjat. Bentakan Ilham menyadarkannya.

“Aku ingin bercerai.”

“Sudah kubilang, …”

“Aku tetap ingin bercerai! Ini bukan emosi sesaat, Lia. Aku yang merasakannya. Aku yang tahu!”

“Trus, kamu cinta sama aku gitu? Huh, aku gak yakin.”

Ilham tidak mengatakan apa-apa mendengar nada sinis Lia.

“Kamu gak cinta sama aku, Mas. Itu bukan cinta.”

“Tapi, Lia…”

“Aku bilangin ya. Ini namanya kamu terobsesi sama aku. Sekarang aku tanya, kalo emang kamu beneran cinta sama aku, apa kamu pernah mikirin aku? Apa kamu pernah mikirin perasaanku? Apa kamu pernah mikirin kebahagiaan aku?”

Ilham memandang Lia dengan tatapan bingung.

“Nggak kan? Kamu sebenarnya gak peduli sama aku. Menurutku, kamu cuman penasaran aja.”

“Penasaran?”

“Iya. kamu kan belum pernah pacaran. Aku cewek, kamu cowok. Kita tinggal serumah. Wajar kalo kamu penasaran.”

“Penasaran bagaimana maksudnya?”

Lia menghela nafas. “Jadi gini, … Kamu belum pernah pacaran kan?”

Ilham menggeleng.

“Kalo pegangan tangan?” Lia meraih tangan Ilham.

“Be..be..lum.” jawab Ilham gugup.

“Pastinya. Tangan kamu basah gini. Bagaimana kalau… ciuman?” Lia maju mendekat. Kini, wajah mereka hanya berjarak lima senti saja.

Ilham hanya mematung. Wajahnya memerah, sementara Lia cuma menatapnya sambil tersenyum. Ilham menelan ludah. Dia salah tingkah. Bagaimana tidak, jantungnya terpacu kencang, sementara otaknya sudah tidak bisa berfikir apa-apa lagi. Sejurus kemudian, bibir Ilham sudah menempel di bibir Lia.

“Maaf Lia, aku nggak sengaja!”

Lia cuma diam saja.

“Aku mau tidur.” Ilham ingin segera keluar dari situasi canggung ini.

“Ngapain buru-buru? Biasanya juga lewat tengah malem kamu baru tidur.”

“Lia…”

“Ya udah kalo gitu. Ayo tidur.”

“OK.”

“Kita tidur bareng.”

“Eh, apa?”

“Kenapa emang? Kita kan suami istri? Udah sah kan?”

“Tapi, kamu bilang, kamu gak suka sama aku?”

“Memang.”

“Tapi, kenapa tiba-tiba…”

“Iih, kamu mikirnya ribet banget sih. Yang jadi cewek itu aku apa kamu? Aku nggak suka sama kamu dan nggak bakalan jatuh cinta sama kamu. Tapi, bukan berarti kita gak bisa tidur bareng kan? Kamunya pengen, aku juga mau. Kenapa nggak?”

“Kata orang, perempuan hanya mau sama laki-laki yang dicintainya.”

Lia menahan tertawanya, “Perempuan jaman kemerdekaan kali… . Lagipula, dengan begini kamu nggak akan tergila-gila lagi sama aku.”

“Bagaimana bisa?”

“Itu cuman hormon, Mas. Entar kamu juga tahu.”

“Bagaimana kalau kamu salah?”

Lia menyelipkan sesuatu di tangan kiri Ilham. Kemudian, dia menutup pintu kamar Ilham dari dalam. “Itu urusan nanti. Yang penting, aku nggak mau hamil sama kamu.”


Ilham terduduk di lantai, di samping tempat tidurnya yang kini diisi oleh Lia. Pandangannya lekat menatap perempuan cantik yang hingga kini masih tertidur. Perempuan itu beringsut menarik kakinya lebih dekat ke badannya, menarik selimutnya lebih dalam.

“Lia, kamu sudah bangun?”

Perempuan itu tidak menjawab.

“Lia, denger aku nggak?”

Lia masih tidak merespon. Matanya terpejam rapat. Beberapa detik kemudian, terdengar suara halus yang makin lama makin jelas. Suara yang berirama teratur. Lia mendengkur.

Ilham menarik nafas panjang. “Lia, aku tahu maksud kamu. Harus kuakui, sekarang aku jadi bisa berpikir jernih. Aku semakin yakin kalo aku benar-benar sayang kamu.” Ilham lagi-lagi menarik nafas panjang. Kali ini, lebih panjang dan lebih dalam dari sebelumnya. “Mungkin, Allah menghukumku karena aku bermain-main dengan pernikahan. Tampaknya, aku tidak punya pilihan lain. Mulai detik ini, kamu adalah istriku yang sebenarnya. Aku sangat ingin kamu menjadi perempuan shalihah. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku hanya bisa berdoa, mudah-mudahan aku tidak seperti Nabi Nuh atau nabi Luth.”

Ilham kembali menoleh ke arah Lia. Tampaknya, Lia masih tertidur pulas. Ilham mengulurkan tangannya. Dia membelai lembut kepala Lia. “Lia, kamu tahu nggak, kalau kamu cantik sekali?” Dengkuran Lia tiba-tiba berhenti. Matanya terbuka. Dia menepiskan tangan Ilham yang masih menempel di rambutnya. Lia mengubah posisi badannya. Kini dia duduk di tempat tidur

“Maaf.”

“Kamu belum tidur dari tadi?”

“Aku nggak bisa tidur.”

“Masih mikirin ini?”

“Kamu benar Lia. Aku jadi lebih rasional sekarang.”

“Aku bilang juga apa.”

“Lia, aku boleh tanya sesuatu?”

“Tanya aja.”

“Sampai sekarang, apa kamu masih mikirin Dimas?”

“Sudah nggak.”

“Cepet sekali kamu ngelupain dia?”

“Nggak tahu.” Lia mengangkat bahu. “Mungkin karena aku sudah muak sama kebohongan dia.”

“O, gitu.”

“Kenapa tanya-tanya?”

“Nggak kok. Itu.. kamu… aku.. Dimas… anu… Kita…” Ilham gelagapan menjawab pertanyaan Lia.

“Kamu berpikir, kalo memang aku masih cinta sama Dimas, kenapa aku mau tidur sama kamu?”

“Bukan.”

“Lalu apa? Aku nggak suka sama kamu, tapi kenapa mau tidur sama kamu? Menurutmu aku murahan gitu?”

“Bukan begitu! Kita sudah menikah.”

“Pas aku ngelakuin itu sama Dimas, aku bukannya tidak tahu kalo itu dosa. Cuman, aku pikir dia begitu karena dia benar-benar sayang sama aku. Lama-lama aku tahu, kata-kata dia emang manis. Tapi, kenyataannya dia bangsat, cuman manfaatin aku doang. Cowok di mana aja sama.”

“Semuanya?”

“Iya. Kamu sebenarnya gak beda jauh sama dia. Cuman kamunya nerd, jadinya masih agak punya moral.”

“Kamu sinis banget sama laki-laki.”

“Emang nyatanya begitu, kan? Yang barusan buktinya? Aku cuman kesel aja. Kenapa cewek yang selalu rugi. Kalo cowok bisa have fun, kenapa cewek nggak?”

“Kayaknya kamu ada benarnya.”

“Memang iya!”

“Aku pernah masuk grup chat ngaji online sekabupaten. Setiap kali rame, yang dibahas cuman dua. Jihad sama poligami. Dan, ketika membahas poligami, sering kata-kata tidak pantas keluar. Aku tidak habis pikir. Bayangkan, ini forum ngaji. Paling tidak, seharusnya mereka bisa jaga itu mulut, karena di sana ada ibu-ibu juga. Itu forum jadi tempat mengumbar hawa nafsu. Nafsu syahwat sama nafsu amarah. Aku muak, aku keluar dari forum itu.”

“Aku nggak heran.”

“Ya, tapi yang kita lakukan ini beda, Lia.”

“Kamu emang apa-apa selalu dipikir susah, ya? Udah lah, yang penting kita seneng, cukup kan? Bukan dosa juga.”

“OK.” Ilham menjawab pendek. Suasana hening sejenak, sebelum kemudian Ilham berkata lagi, “Lia, aku mau tanya lagi boleh nggak?”

“Apa lagi?” kata Lia dengan nada sedikit kesal.

“Kamu percaya Allah nggak?”

“Ya iyalah.”

“Kalo Rasulullah?”

“Pertanyaan macam apa itu? Gini-gini aku masih muslim tau. Cuman, nggak tau kenapa orang Islam di Indonesia nggak ada yang bener. Kerjaannya cuman ngamuk aja. Di offline iya, di online apa lagi. Ya males kan dekat-dekat sama orang-orang yang kerjaaanya cuman ngamuk.”

“Lia…”

“Apa? Kalo kamu tanya soal kenapa aku nggak mau sholat dan pake jilbab, aku nggak mau jawab.”

“Bukan itu. Aku cuma mau bilang, aku seneng bisa ngobrol sama kamu begini. Udah lama aku nggak ngobrol begini sama orang lain.”

“Aku nggak. Aku ke sini pengen santai, bukannya malah pusing mikirin yang berat-berat.” Lia beranjak dari tempat tidur, menyelimuti dirinya dengan bed cover tebal. “Aku pinjem dulu bed cover-nya, entar aku balikin.” Dia meninggalkan Ilham sendirian.