Bab 7

Lia memperhatikan lembaran demi lembaran kertas di tangan kirinya, sementara jari-jari tangan kanannya sedari tadi mengetuk-ngetuk meja. Dahinya mengernyit, seakan berusaha keras menemukan jawaban.

“Ngapain dibaca lama-lama, tinggal tanda tangan doang kan?” Deri rupanya mulai tidak sabar.

“Iya, bentar…”

“Biasanya juga lo asal tandatangan aja.”

“Tunggu bentar, ah”. Kali ini, Lia yang justru mulai gusar.

“Ya udah, lo bawa aja dulu. Besok kasih ke gue ya.” kata Deri kemudian setelah lama menunggu Lia. Padahal, tidak sampai 5 menit.

“Der, tunggu!”

“Kalo mau sekarang, cepetan. Habis istirahat, kita langsung pulang. Kru juga udah pada bongkar-bongkar tuh.”

Lia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

“Der, kayaknya gue gak lanjut aja deh.”

“Eh, apa?!”

“Udah cukup di pilot aja.”

“Gila, lo? Rating acara kita tuh bagus banget. Lo, gak lagi ada masalah kan?”

“Gak. Ini gak ada hubungannya.”

“Trus kenapa? Lo tau gak, saat ini adalah kesempatan lo yang paling baik supaya bisa eksis. Gak akan ada lagi yang sebagus ini Lia. Lo bakalan nyesel kalo berhenti gitu aja. Emang masalahnya apa sih? Kontraknya kekecilan? Kita masih bisa nego. Gue revisi yah…”

“Nggak usah. Ini sudah jadi keputusan gue. Dan, ini bukan masalah uang.”

“Trus, masalah apa?”

“Gimana ya, jelasinnya. Dari awal gue tau yang namanya reality show itu gak sepenuhnya bener. Pasti pake skenario. Tapi, paling tidak gue berharap kita beneran nolongin orang. Dengan gitu, paling tidak kita bisa jadi inspirasi buat pemirsa yang nonton untuk ngelakuin hal yang sama. Awal-awal gue suka kerja di sini. Tapi, semenjak orang-orang yang kita tolong itu ganti semuanya pake aktor, gue mulai gak nyaman.”

“Kenapa gak dari dulu lo ngomongnya? Kenapa justru pas mau mulai season baru, lo tiba-tiba cabut aja.”

“Ya kan gue sudah terikat kontrak, Der. Lagipula, gue juga butuh duitnya. Gue akan penuhi syuting sampe kontrak berakhir. Masih dua episode lagi kan?”

“Trus gue ini gimana ngomongnya ke bos-bos itu? Lo nyusahin gue tau gak?”

“Sori, Der.”

“Lo tau kan, kalo lo baru aja kehilangan peluang yang bagus banget buat ngangkat karir lo? Abis ini, gue gak tau lagi mau nyariin job apa buat lo. Ada pun paling cuman iklan.”

“Iya, gue tau. Tapi, gue gak bisa bohongin diri gue.”

“Ato gini aja. Lo bawa kontrak ini pulang. Lo pikir-pikir dulu deh di rumah. Besok kalo lo udah tenang, kita ngobrol lagi.”

“Keputusan gue udah fix Der.”

Deri cuma bisa menahan gusarnya menghadapi kengototan Lia. Akhirnya dia bilang, “Ya udah, lo siap-siap. Habis ini kita pulang.”

“Gue ke toilet dulu, boleh?”

“Ya udah, sana.”

Mengurung diri di sebuah bilik toilet, barulah Lia bisa menumpahkan semua perasaannya. Lia menutupi kedua wajahnya. Tidak ada isak tangis yang terdengar, tapi air mata terus mengalir dari sela-sela jarinya. Tidak terasa, lima belas menit sudah dia mengurung dirinya di sana. Ketika akhirnya keluar, matanya masih merah sembap. Namun, kini wajahnya menampakkan sedikit kelegaan. Lia kemudian melirik HP-nya yang sedari tadi diabaikannya. Dua panggilan tidak terjawab dari Deri, yang disusul dengan dua pesan tidak terbaca.

Salah satunya berisi, “Lia, lo di mana? Sori banget, tapi gue habis telpon agensi soal masalah ini. Mereka marah besar. Lo langsung diputus kontrak. Mulai besok lo gak usah ikut syuting lagi. Gue udah gak bisa lagi bantuin lo.”

Pesan yang satu lagi menyatakan, “Oh ya, sori sekali lagi. Lo harus pulang sendiri. Bos kayaknya marah banget. Dia langsung cabut semua fasilitas lo.”

“Masa gini sih!” gumam Lia. Berkali-kali dia mencoba menelepon Deri balik, namun tidak diangkat. Mereka harus memberi penjelasan. Dia layak mendapat perlakuan lebih baik. Paling tidak, lebih baik daripada ditelantarkan di tengah hutan seperti saat ini. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil. Sekarang, dia cuma berpikir bagaimana caranya bisa pulang

“Halo Lia. ada apa?” sambut Ilham datar di seberang sana.

“Mas, bisa jemput aku nggak? Aku tadi abis syuting kan ke toilet, terus pas balik semuanya udah pulang. Aku ditinggal sendirian nih di kampung terpencil.”

“Kok bisa? Kamu gak nyoba nelpon Deri atau siapa gitu?”

“Udah, gak diangkat. Ceritanya panjang. Sekarang, yang penting jemput aku ya. Aku kirim lokasi.”

“Lia, aku nggak bisa. Dua jam lagi aku ada presentasi produk ke calon klien. Mana sempat bolak-balik jemput kamu.”

“Trus aku gimana? Plis, di tengah hutan ini.”

“Taksi online aja ada kan?”

“Mana ada? Ini di tengah hutan mas!”

“Cari dulu aja coba. Nanti kalo ternyata gak ada, telpon aku lagi.”

Lia masih ingin menyanggah, tapi Ilham sudah terlanjur memutus sambungan. “Iih, ngeselin.” Lia mengatai pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Mau tidak mau, dia harus menurut. Dia membuka aplikasi, mencoba memanggil taksi online yang siapa tahu berada di dekat tempat dia berada. Percobaan pertama berakhir gagal, setelah dia menunggu hingga tak sabar. Percobaan kedua sama saja, sehingga dia makin tak sabar. Putus asa, dia kembali menelpon Ilham.

“Mas, aku gak bisa dapet taksi. Pokoknya jemput aku sekarang!” rengek Lia panik.

“Sekali lagi coba.” jawab Ilham datar.

“Ini udah dari tadi! Gak ada yang nyangkut sama sekali.” Lia makin gusar mendengar jawaban Ilham.

“Ya kan, siapa tahu. Sekali lagi coba.” sahut Ilham tidak mau mengalah.

“Aku di hutan! Ngerti gak sih? Entar kalo aku diculik gimana?” kali ini, meledaklah amarah Lia.

“Eh..? Ya udah, kamu tunggu di situ ya. Aku jemput kamu ke sana. Jangan ke mana-mana.” nada khawatir akhirnya terdengar dari mulut Ilham.

“Aku kirim lo…” Tuut… tuut… tuut… . Sambungan terputus sebelum Lia bisa menyelesaikan kalimatnya. Lia benar-benar tidak habis pikir dengan laki-laki yang satu ini. Walaupun begitu, ia tetap mengirimkan lokasi, tanpa diminta.

Lia menghela nafas lega. Sebenarnya, akan jauh lebih baik baginya mendapatkan taksi online daripada menunggu Ilham. Perjalanan bolak-balik akan memakan waktu lama, dan dia memilih untuk tidak menunggu. Lia kembali mencoba memanggil taksi online. Kali ini, Lia sungguh sangat beruntung. Terlihat jawaban dari layar hapenya. Seorang pengemudi menghubunginya.

“Ya, halo?” jawab Lia kaget. Dia tidak menyangka pengemudi taksi langsung menelponnya

“Selamat sore mbak.” sapa seorang pria ramah dari seberang sana

“Iya, gimana?”

“Maaf, ini bener 30 kilo ya?”

“Iya mas. Tolong banget jangan dicancel ya. Saya gak bisa pulang. Untung ada mas.”

“O, gitu. Saya segera ke sana ya. Mbak tunggu saja.”

“Makasih banget, mas”

“Sama-sama mbak”

Lima belas menit kemudian, sebuah sedan hitam berhenti sepuluh meter di depan Lia. Lia memastikan nomor polisinya, sebelum kemudian bergegas menghampiri mobil tersebut. Dengan percaya diri dia memasukinya tanpa berkata apa-apa. Pengemudi mobil tampak terkejut melihat wanita di sampingnya. Untungnya, Lia segera sadar dengan apa yang dia lakukan.

Lia meringis, merasa bersalah dia bilang, “Oh, sorry. Saya Lia yang tadi telepon. Bener ini kan mobilnya, B 5758 XX?”

“O iya mbak, silakan”, kata pengemudi itu sambil mengangguk.

“Untung ada mas. Kalau nggak, saya nggak bisa pulang.”

“Kebetulan sekali mbak. Saya juga sedang ke tempat temen ini.”

“Ya udah, langsung aja yuk”

“Ya mbak.”

Lia mengambil HP-nya. Dia mengirim pesan kepada Ilham untuk tidak usah menjemputnya.

Di perjalanan, mereka tidak banyak bicara. Lia asyik bermain-main dengan HP-nya, sementara si pengemudi serius memperhatikan jalan. Lama-lama, Lia bosan juga. Demi menghabiskan waktu, akhirnya dia mengajak bicara pria di sebelahnya

“Sudah lama bawa taksi online?” tanya Lia klise.

“Belum terlalu lama. Baru sekitar satu setengah tahunan ini.” jawab pria itu. Dia menoleh kepada Lia sebelum akhirnya kembali memperhatikan jalan.

“Lumayan juga sih. Sebelumnya kerja di mana emang?” Lia melanjutkan pertanyaannya.

“Saya dulunya PNS di Kemlu. Saya mengundurkan diri. Setelah dua bulan menganggur, akhirnya saya menjadi pengemudi taksi online.”

“Oh ya, kenapa resign? Bukannya udah bagus jadi PNS? Di kemenlu lagi.” tanya Lia terkejut.

Si pengemudi menarik nafas panjang, “Yaa, banyak hal sih mbak. Tapi, utamanya soal idealisme. Saya sudah tidak betah di sana.”

“Iya, kalau sudah prinsip hidup emang gak boleh diganggu gugat.” Lia bergumam. Terpikir olehnya apa yang barusan dia alami. Si pengemudi hanya menanggapi gumaman Lia dengan tersenyum. Lia melanjutkan, “Lo nggak nyesel, ninggalin kerjaan mapan kayak gitu?”

“Tidak. Sejak awal saya tahu bahwa bahwa pemerintahan kita sudah sakit parah. Butuh perubahan mendasar. Ketika saya masuk pertama kali, saya berharap menjadi bagian perubahan itu. Selama 5 tahun, saya mencoba bersabar. Posisi saya masih terlalu rendah. Saya berusaha bekerja sebaik-baiknya sambil menutup mata terhadap hal-hal yang tidak bisa saya jangkau. Ketika akhirnya Kemlu menyekolahkan saya S2 di Inggris, saya merasa bahwa itu jadi peluang bagi saya untuk melakukan perubahan yang saya idam-idamkan. Sayangnya, kerusakan pemerintahan kita sudah terlalu akut. Saya merasa tidak berdaya.”

“Lo lulusan S2?” pekik Lia. “Kenapa nggak daftar jadi dosen aja? Kan bisa tetep idealis tuh kalo jadi dosen?”

“Sudah mbak. Hanya saja, belum ada yang mau nerima saya waktu itu. Akhirnya saya nyetir taksi online, karena bagaimanapun saya butuh penghasilan.”

“Sorry.” Lia menyesal sudah salah ucap. Dia kemudian menyambung, “Yang penting, kita harus tetap semangat!”

“Makasih mbak. Lagipula, saya juga punya kerjaan sampingan selain jadi sopir taksi online.”

“Oh ya, jadi apa? Gedean mana sama taksi online?” tanya Lia penasaran.
“Saat ini belum kelihatan hasilnya, tapi mulai ada titik terang. Saya sejak dulu hobi menulis novel. Semenjak resign, saya jadi punya waktu untuk menekuni hobi saya. Saya sudah menamatkan tiga judul. Yang pertama banyak digemari di sebuah platform online. Walau bayarannya tidak seberapa, tapi ada produser yang melirik novel saya untuk dijadikan film. Katanya mereka sedang melakukan penjajakan.”

“Oh ya? Asyik banget tuh. Kabarin gue yah kalo novel lo dijadiin film beneran. Gue mau banget jadi aktrisnya.” sambut Lia heboh.

Namun, si pengemudi justru tertawa terbahak-bahak, sebelum akhirnya dia bilang, “Mbaknya ini lucu.”

“Eh, serius. Lo beneran gak tau kalo gue ini artis terkenal?” Lia tersenyum penuh percaya diri.

“Eh, apa?” Si pengemudi menoleh ke arah Lia. Dahinya sedikit berkerut. “Ooo… mbak ini..? Lia Komala?” Si pengemudi terkejut. Namun, dia segera mengarahkan pandangannya kembali ke jalan di depannya.

“Perkenalkan. Nama lo siapa?” Lia menoleh ke arah si sopir, tersenyum.

“Nama saya Fadhil mbak. Saya tidak menyangka bakal ketemu artis di tempat terpencil seperti ini”

“Senang berkenalan dengan lo, Fadhil.” Lia kembali membalas dengan ramah. “Btw, nomer lo berapa? Barangkali kita bisa kontak-kontakan lagi gitu?”

“He? Gimana mbak?” Fadhil terbelalak mendengar ucapan Lia.

“Ngapain kaget gitu?”

“Anu, nggak, haha. Biasanya itu artis yang dimintai no telepon, bukan sebaliknya.”

“Biasa aja kali. Lo orangnya asyik, ya wajar kan kalo kita temenan? Tapi, kalo lo gak mau gakpapa. Gue gak maksa.”

“Bukan gitu maksudnya mbak. Baiklah, no saya 081 373 5858” Sesaat kemudian, terdengar nada musik mengalun. “Udah masuk. Makasih mbak, nanti saya save.”

Setelah perkenalan unik mereka, Lia dan Fadhil lebih banyak terdiam sepanjang perjalanan. Sambil sesekali Lia mengomentari keadaan di jalan, yang ditanggapi pasif oleh Fadhil. Seperti contohnya saat ini, “Gile, arah yang ke sini bisa macet banget gitu ya?”

“Soalnya ini akhir pekan mbak. Orang-orang yang ngekos yang rumahnya di luar kota sekalian mudik mungkin.”

“Iya juga ya.” Lia berpikir, untung dia tidak memaksa Ilham menjemputnya. Kalau tidak, pastilah baru jam 9 malam mereka beranjak dari tempatnya syuting. Bisa-bisa, mendekati tengah malam mereka baru akan sampai di rumah lagi.

“Mbak mau makan dulu?” Fadhil kembali memecah kebekuan di antara mereka.

Lia masih sibuk memelototi HP-nya.

“Mbak?”

“Eh, apa?” Lia terkaget, kebingungan.

“Mbak mau makan dulu? Di dekat sini ada rumah makan langganan saya. Kalau-kalau mbak mau sekalian ikut makan sama saya.”

“Kita langsung aja ya? Takutnya entar kemaleman.”

“Anu, mbak. Ini saya nggak minta mbak bayarin makan kok. Kita bayar sendiri-sendiri. Lagipula, saya tetap harus ke toilet juga. Mbak kan sekalian ikut ke toilet?” Fadhil tersenyum menerangkan.

“Ok deh, mampir aja gakpapa kalo gitu. Rumah makannya rame gak?”

“Ya, kalo jam segini biasanya memang rame sih…”

“Nah, itu dia. Gue takutnya ketemu fans. Kan kita duduk di situ lama tuh Entar kita jadi makin telat pulang deh. Gue titip aja gimana?”

“Boleh, mau titip apa?”

“Ada apa aja emangnya?”

“Ya, kayak warteg biasanya gitu. Ada lauk sama sayuran lengkap, tapi ada juga ayam bakar sama ikan bakar…”

“Ayam bakar aja deh. Jangan lupa kasih sambel yang banyak yah.”

“Baik.” Dengan sigap Fadhil membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan bernama “Kanthi Eco”. Begitu memasuki gerbang rumah makan tersebut, mobilnya melambat. Fadhil menengok ke kiri dan ke kanan, sebelum akhirnya berhasil menyelipkan mobilnya di salah satu tempat parkir yang kosong.

“Mbak gak mau sekalian ke toilet dulu?” Fadhil kembali bertanya.

“Entar lagi deh.” kata Lia sambil celingak-celinguk ke luar.

Fadhil hanya mengangguk. Dia beranjak keluar mobil.

Ketika akhirnya Lia kembali ke mobil dari toilet, dia menemukan sebuah kotak makan polyester putih di kursinya. Ada satu lagi di kursi sopir, namun Fadhil si sopir entah pergi ke mana. Tidak mau banyak berpikir, Lia segera menyantap ayam bakar nasi uduk di tangannya. Suapan besar demi suapan besar memasuki mulutnya. Entah berapa lama Lia asyik menikmati makan malamnya, ketika akhirnya ia mendengar suara pintu mobil dibanting. Lia menoleh, baru sadar kalau Fadhil kini sudah kembali di sampingnya. Seakan pencuri yang tertangkap basah, Lia terdiam. Dia meletakkan kembali paha atas ayam yang sedari tadi sudah bertengger di mulutnya. Fadhil hanya meliriknya, sebelum dia mengambil kotak putih miliknya sendiri.

“Ke mana tadi, kok lama?”

“Oh, tadi saya sekalian sholat maghrib dulu.”

Lia membulatkan mulutnya, membentuk huruf O tanpa suara. Dia mengangguk-angguk. “Jadinya berapa nih?”

“Dua puluh dua ribu mbak. Nanti aja bayarnya sekalian ditambahkan ke tip, biar gampang.”

“OK.” Lia kembali meneruskan makannya, walau tentu saja tidak selahap tadi. Tiba-tiba, sebotol air mineral tersodor ke arahnya. Lia menoleh. Fadhil mengangguk sambil tersenyum. Lia mengambil botol itu dari tangan Fadhil sambil berkata, “Makasih ya.”


Penampilan Ilham kusut. Wajahnya cemberut. Langkahnya gontai memasuki rumah, sementara sorot matanya meredup. Dilihatnya kembali chat dari Lia, “Aku dah dapet taksi online. Gak usah dijemput.” Sebuah pesan yang baru dilihatnya, ketika ia tersesat di luar kota, entah di mana. Bahkan GPS dan peta digital pun tak mampu membuatnya sadar arah dan wilayah. Tampaknya Ilham terlalu jumawa. Sepanjang perjalanan, hapenya cuma dikantongi saja. Dia baru membukanya ketika tiba di daerah yang tidak dikenalnya. Bahkan pengemudi taksi pun akan selalu menyalakan GPS-nya, padahal itu pekerjaan mereka setiap hari. Ilham sudah rugi dua kali, tersesat dan terjebak macet, dan untuk alasan yang sia-sia.

“Yang penting, Lia sudah sampai di rumah dengan selamat.” Ilham membatin. Langkahnya lemah menuju kamar Lia, tapi hatinya bergejolak tak sabar. Dengan hati-hati, ia membuka pintu kamar istrinya. Ilham menghembuskan nafas lega. Istri kesayangannya terlelap nyenyak, tengkurap mirip katak. Pelan-pelan ia kembali menarik gagang pintu, sebagaimana ia tadi mendorongnya. Namun, tangannya berhenti. Ia kembali menatap Lia dari celah pintu, yang kini kembali dibukanya lebih lebar. Ilham berjalan menghampiri Lia. Ia duduk bersimpuh di samping tempat tidur, menatap lekat wajah perempuan cantik di depannya. Menghela nafas, ia bergumam, “Kenapa aku harus punya perasaan ini padamu? Aku sama sekali tak ingin, tapi aku tidak kuasa.” Ilham menggenggam tangan Lia. Ia merebahkan kepalanya di samping Lia. Ia ingin menatapnya lebih dekat.

Lia membuka matanya, pelan-pelan mengumpulkan kesadaran. Ia berusaha mencerna apa yang sudah terjadi pada dirinya. Dan, mengapa tiba-tiba pria ini ada di hadapannya. Tapi demi melihat cairan bening di depannya, Lia mendorong kuat-kuat tubuh si pria. Si pria, dengan mata yang masih tertutup, tentu saja terjerembab ke belakang.

“Aduh!” pekik Ilham. Belum sempurna kesadaran Ilham, sebuah bantal besar melayang menimpa kepalanya.

“Pergi! Keluar dari sini!” teriak Lia.

“Lia, apa salahku? Kenapa aku dimarahi?”

“Kamu tuh bau, tau nggak? Sana keluar!” Lia menutup hidungnya. “Bawa sekalian itu bantalnya. Jijik ih, kena iler kamu.”

Ilham meraba bantal yang tadi dilemparkan Lia. Benar saja, memang basah.

“Maaf.” sahut Ilham pendek.

“Ya udah, cepetan sana keluar.” Lia masih saja ketus.

Ilham tidak menghiraukan kata-kata Lia. Dia justru bertanya, “Kamu tadi malem sampe rumah jam berapa?”

“Sekitar jam 7 kalo gak salah. Kenapa emangnya?” Lia mengernyitkan dahinya, bingung dengan pertanyaan Ilham yang tiba-tiba.

“Gak papa. Cuma nanya aja.”

“Kamu sendiri pulang jam berapa?”

“Ada kalau jam sebelas mungkin.” Ilham mencoba mengingat-ingat.

“Malem banget, meeting?”

“Nggak. Meeting yang kemarin kubilang itu dibatalkan. Ada yang ijin karena urusan keluarga.”

“Berarti gak penting-penting amat dong kalo batal. Apalagi cuman gara-gara urusan keluarga. Kayak gitu disuruh jemput gak mau.”

“Tentu saja penting, Lia! Calon customer kita cuma punya waktu kemarin Jumat itu. Hari ini dia udah transit di Singapura.” bantah Ilham jengkel.

“Ya nggak usah ngegas napa? Aku tanyanya juga biasa aja, kan?”

“Ya kamu ngapain tiba-tiba nanya urusan kerjaanku? Biasanya juga nggak peduli.” jawab Ilham, masih dengan nada tinggi.

“Kamu duluan yang ngajakin ngobrol kan? Padahal aku dah suruh kamu pergi dari tadi. Sana keluar! Mandi!” Lia mengarahkan jarinya ke arah pintu.

Ilham hanya mendengus kesal. Ia keluar dari kamar sambil membanting pintu.

Ilham keluar dari kamar mandi. Kini badannya terasa segar, apalagi setelah tadi diguyur oleh air dingin yang menyentak kesadarannya. Tubuhnya sedikit menggigil, tapi setidaknya wajahnya terlihat lebih cerah. Lamat-lamat, ia mencium bau sedap. Makin lama, bau itu makin menyengat. Siapa lagi kalau bukan Lia yang sedang memasak. Ilham bergegas ke dapur.

“Lia, kamu masak apa? Baunya enak.”

“Cuman tumis kangkung seafood sama aya…” Belum selesai Lia menjawab, tangan Ilham sudah menjamah kumpulan ayam goreng yang baru matang. Lia berseru kaget, “Eh, itu masih…”. Ilham menjatuhkan lagi paha ayam belum sedetik diambilnya. “…panas.” sambung Lia, sambil memperhatikan Ilham yang kini sedang meniup-niup tangannya yang kini memerah.

“Sukurin, rakus sih. Lagian, emang siapa yang masakin kamu?”

“Terus, kamu masak sebanyak ini siapa yang makan coba? Sayang kan kalau dibuang?”

“Siapa bilang dibuang? Dimakan sendiri lah. Orang ayam cuman lima biji juga.”

“Lima biji kamu makan sendiri?” Ilham berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa? Kamu kalo mau makan ambil piring sana. Jangan kayak anak kecil, asal comot sembarangan.”

“Serius nih? Aku boleh makan?” tanya Ilham berbasa-basi.

“Nggak boleh!”

“Lha tadi…”

“Kamu enak ya. Pas lagi butuh, minta. Giliran nggak butuh, mana pernah kamu peduli aku masak apa?”

“Emang kapan kamu masak kalo nggak pas hari libur?”

“Nah, kan… . Aku tuh tiap hari masak, tau!”

“Yang bener? Kok aku nggak pernah liat?”

“Salah sendiri pulang tengah malem.”

“Ya kan artinya cuma makan malem aja.”

“Ya kalo pagi mana sempat, biasanya kan juga syuting juga pagi-pagi banget. Aku gak suka masak buru-buru.” Lia membela diri.

“Ya udah, kalo gitu tiap hari aku akan makan malem di rumah. Mau jam berapapun aku pulang, aku pasti makan.”

“Enak aja. Gak mau! Kok aku malah jadi tukang masakin kamu? Lagipula, capek tau nungguin kamu pulang.”

“Ngapain ditungguin? Kalo mau tidur, ya tidur aja. Aku bisa makan sendiri.”

“Itu makanan kan harus diangetin?”

“Nggak usah. Langsung dimakan aja.”

“Gak enak tau, makan masakan dingin.”

“Gak ah.”

“Ya udah, kalo gitu gak usah masak buat aku. Aku nggak kamu mau repot.”

“Kamu nggak suka masakanku ya?”

“Suka, Lia, tentu saja suka. Ini aku pengen banget makan masakan kamu. Tapi, kamu ngajak aku ngomong terus. Ya udah, bagaimana kalo pas aku pulang malem-malem, kalo kamu sisain buat aku, aku yang angetin sendiri sebelum aku makan. Kalo nggak, aku bisa bikin mie. Sekarang, aku dah boleh makan belum nih?” Ilham dongkol. Dia tidak mengerti jalan pikiran istrinya. Yang dia tahu, sekarang dia lapar dan ingin segera makan.

“Nggak boleh!”

“Apa lagi, Lia?!”

“Aku mau, abis ini, kamu yang cuci piring sama wajannya. Semuanya. Trus, jangan lupa itu pakaian kotor dah numpuk. Tolong dicuci semua yah?”

“Iya iya…” jawab Ilham sambil bersungut-sungut.

“Thanks”. Akhirnya, Lia tersenyum juga.

Setelah bersusah payah, perjuangan Ilham demi mendapatkan sarapan di tengah perut yang keroncongan akhirnya berhasil juga. Seakan ingin membalas dendam, suapan besar demi suapan besar dengan cepat memasuki mulutnya.

“Pelan-pelan dong makannya, entar kamu keselek” kata Lia sambil menyodorkan segelas air putih.

Akan tetapi, kata-kata itu justru berakibat terbalik bagi Ilham. “Uhuk.. uhukk..”. Rasa panas menyekat hidung Ilham. Ia segera meneguk air putih di hadapannya. Ilham menghentikan makannya sejenak.

“Nah, kan, aku bilang juga apa.” kata Lia acuh tak acuh sembari ia mengambil nasi dan segelas air untuk dirinya sendiri, kemudian duduk di hadapan Ilham.

“Lia…”

“Hmm?”

“Kamu belum cerita, gimana caranya tadi malem kamu bisa dapat taksi.”

“Gak ngerti. Tiba-tiba aja ada nyangkut. Kayaknya kemaren aku beruntung banget deh.”

“Ooo…”

“Iya, trus kamu tau nggak, sopir taksinya ternyata lulusan S2 luar negeri loh. Namanya Fadhil”

“Hah? Trus, ngapain dia jadi sopir taksi? Kenapa nggak jadi dosen atau apa gitu?”

“Gak tau, dia bilang dah apply ke mana-mana tapi nggak keterima.”

“Masa sih?” Ilham mengerutkan dahinya.

“Ya dia bilangnya gitu. Aku juga mana ngerti?” Lia mengangkat bahu.

“OK, terus?”

“Katanya dia sekarang penulis novel gitu. Terus ada satu novel yang mau dibikin film. Trus aku bilang, ‘boleh gak gue main di film lo?’”

“Ngapain? Kamu kan dah jadi artis terkenal. Untuk apa kamu malah ngurusin film nggak jelas dari supir taksi gitu. Ya kalo filmnya digarap sama tim profesional. Kalo nggak, kamu bakalan main sama tim amatir dengan bayaran yang nggak seberapa.”

“Eh, tapi dia bilang yang baca novel dia udah dua puluh juta loh. Dia kan naruh novelnya di platform online. Di situ ada angkanya.”

“Judul novelnya apa?” tanya Ilham sambil bersiap-siap mencari dengan hapenya

“Gak tau.” Lia menjawab polos.

“Lah, gimana sih? Pengen jadi female lead tapi judulnya aja nggak ngerti.”

“Tapi aku dah dapet kontak dia kok. Tinggal tanya aja ke dia. Besok, kalo pas casting, aku bakalan dikasih tau.”

“Tapi, omong-omong, urusan kontrak kayak gini bukannya harusnya urusannya Deri ya?”

“Oh, kamu belum kukasih tau ya…” sorot mata Lia meredup.

“Soal apa?”

“Kemaren itu aku ceritanya diputus kontrak sama agensiku. Terus, aku ditinggalin begitu aja di lokasi syuting.” Lia menghela nafas panjang.

“Kok bisa?”

“Gak tau. Aku cuman gak mau ngelanjutin kontrak untuk pilot season. Tapi, ternyata mereka marah besar karena ratingnya udah terlanjur bagus. Aku dipecat gitu saja dari agensi.”

“Kenapa berhenti? Bukannya kerjaan kamu yang sekarang kan enak? Kan jadi host acara reality show itu lebih nggak stres dibanding main sinetron?”

“Ya tapi itu semuanya cuman settingan. Nggak ada reality-nya sama sekali. Aku ngerasa nggak nyaman seakan-akan aku bilang ke semua orang, ‘Eh, kita baik lo udah nolongin banyak orang’. Nyatanya, itu semua akting.”

“Oh…” Ilham menanggapi pendek. Dia menyesal telah menyalahkan keputusan Lia.

“Aku takut … . Aku sekarang nggak punya agensi.” Nada bicara Lia berubah. Matanya berkaca-kaca. “Aku bahkan gak tau bisa kerja lagi apa nggak.” Lia menyeka air mata dari sudut matanya. “Kalo aku di-black list, gak akan ada yang mau nerima aku lagi.”

Ilham panik. Melihat istrinya menangis, dia bingung harus berbuat apa. Yang dia tahu, dadanya terasa nyeri melihatnya. Nalurinya menuntunnya. Ia memegang erat tangan Lia, mengelusnya lembut.

Lia menarik tangannya. “Tapi Allah baik sama aku. Baru aja aku diputus kontrak, tapi langsung dapet gantinya. Artinya, keputusanku berhenti dah bener.” Lia kembali menyeka sudut matanya.

Ilham hampir saja membantah Lia, tapi ditahannya. Ini adalah saat yang sangat-sangat tidak tepat untuk beradu mulut dengan Lia. Akhirnya dia berkata, “Mulai syuting kapan?”

“Belum tau. Fadhil kan jadi penulis naskahnya juga. Katanya dia baru mulai. Jadi, kayaknya masih agak lama, masih beberapa bulan gitu.”

“Fadhil?”

“Iya, sopir taksinya namanya Fadhil.”

“Ooh… . Dia janji bakalan ngasih kamu peran atau gimana?”

“Nggak lah. Tetep harus lewat casting pasti. Kan bukan cuman keputusan dia seorang. Tapi aku harus optimis. Nggak boleh putus asa, iya kan?”

“Iya, tentu saja. PH yang mau bikin film kamu namanya apa? Judul novelnya apa tadi?”

“Coba aku chat dulu ya.” Lia meraih hapenya, mengetikkan sesuatu sebelum kemudian terdiam beberapa saat. “Eh, dia langsung bales!” pekik Lia girang. “Judul novel dia ‘Ketulusan Hati di Balik Senyummu’. PH-nya namanya Imaji Films”.

“Imaji Films?”

“Iya, kenapa?”

“Kamu nggak tau Imaji Films?”

“Pernah denger. Kenapa emangnya?”

“Sebenarnya kamu itu aktris apa bukan sih?” Ilham mulai kesal.

“Apaan sih? Emang kenapa kalo aku nggak tau Imaji Films?”

Ilham memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ia tidak habis pikir dengan perempuan satu ini. Membenahi posisi tubuhnya, Ilham memulai perkataannya dengan hati-hati, “Jadi gini… . Aku rasa kamu bakalan sukses besar kalo kamu dapat peran di film ini.”

“Bukan film, sinetron. Series, tau nggak series?”

“Sama aja lah.”

“Beda dong. Bayarannya beda.”

“OK, apapun itu. Kamu tau nggak kalo Imaji Films bikin sinetron, mereka selalu bikinnya pre-produced. Setiap tahun, mereka cuman ngeluarin satu atau dua sinetron aja. Ya, kadang-kadang mereka bikin film juga. Tapi intinya, sinetron mereka itu selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh pemirsa. Padahal satu season, paling banter berapa episode gitu, 60 atau 70, nggak sampai ratusan. Aku nggak pernah liat mereka bikin sinetron kejar tayang.” Ilham berusaha menjelaskan.

“Iya, trus?”

“Aduh, gimana ya ngomongnya. Menurutku, ini kesempatan besar buat kamu. Kalo kamu memang bisa dipilih main di situ, kamu akan kerja sama orang-orang luar biasa. Tapi, …”

“Emangnya kamu pernah kerja bareng mereka?” Lia mulai kesal dengan nada menggurui Ilham.

“Ya tentu saja tidak pernah! Tapi, paling tidak kan keliatan dari hasilnya.” jawab Ilham dongkol karena perkataannya dipotong. “Denger dulu. Jadi, kamu bisa sukses besar, tapi syaratnya kamu harus kerja keras. Bener banget itu Allah ngasih kamu jalan keluar, tapi kamu sendiri juga harus usaha.”

“Maksud kamu apa?”

“Penulisnya bilang casting-nya masih lama kan? Nah, mulai sekarang kamu harus belajar akting.”

“Jadi, menurutmu aktingku jelek gitu? Emang kamu sendiri bisa akting?” Lia tersinggung mendengar perkataan Ilham.

“Maaf ya, boleh saja sinetron kamu terkenal, tapi aktingmu gak enak diliat. Aku gak bisa akting. Aku penonton. Penonton bebas menilai.”

“Terserah kamu lah. Aku lagi nggak mau ribut.” Lia mulai ngambek.

“Terserah kamu mau ikuti saranku atau tidak. Kamu berhasil atau tidak nantinya, kamu sendiri yang akan merasakannya.”

Takk. Lia meletakkan sendok ke piringnya dengan keras. Dia tidak menghabiskan sarapannya yang masih bersisa, “Jangan lupa, ntar piringnya dicuci.” perintahnya dengan nada dingin. Lia meninggalkan Ilham sendirian.