Menjadi Penulis Roman Picisan

Saya adalah sebagaimana orang kebanyakan. Saya bekerja, menikah, dan punya anak. Saya adalah sebagaimana orang kebanyakan! Saya bermain game, menonton film, membaca novel, dan jalan-jalan. Akan tetapi, apa yang terjadi ketika saya malas memainkan game yang saya punya, muak menonton film, dan geregetan ketika membaca novel? Bahkan untuk menghibur diri sendiri dengan barang-barang tidak berguna pun, saya sudah tidak bisa. Mungkin, inilah saat saya menghibur diri dengan barang-barang yang berguna. Guru saya Cal Newport menyebut tindakan ini sebagai “Reclaim Your Leisure”. Ketika anda berhasil menyingkirkan hal-hal tidak penting dari hidup anda, saatnya mengisi dengan sedikit hal yang paling anda pedulikan dalam hidup anda. Ya, bahkan menghibur diri pun harus fokus. Milikilah hobi dan tinggalkanlah fesbukan atau yutupan.

Pak Ustadz Cal Newport menyarankan beberapa hal untuk mengisi waktu luang kita. Kalau kita memanfaatkannya untuk bersosialisasi, manfaatkanlah dengan sosialisasi yang bermakna. Misal, bertemu teman-teman akrab di warung kopi untuk main ular tangga. Kalau mau punya hobi, maka pilihlah hobi berkarya. Bisa itu karya kerajinan tangan (crafting) atau karya kerajinan jari (programming and writing). Kerajinan tangan lebih bagus daripada kerajinan jari, karena tangan lebih besar daripada jari. Atau, jika tidak bisa berkarya, minimal kita memanfaatkannya dengan hal-hal yang aktif dan fokus. Membaca novel misalnya, dan bukannya membaca wol fesbuk atau menonton drakor dacin yang tidak jelas kualitasnya.

Karena saya orangnya malas dan benci dengan kerajinan tangan, maka saya memilih untuk menjadi penulis roman picisan saja. Alasannya karena sebelumnya saya susah lepas dari hiburan drakor dracin. Maka, penggantinya ya tidak jauh-jauh dari itu. Ketika saya menulis cerita-cerita roman picisan, maka saya sejatinya adalah menulis cerita-cerita yang saya bisa nikmati sendiri.

Ciri-ciri Cerita Kesukaan Saya

Jujur, terlalu banyak sudah waktu yang saya habiskan untuk membaca dan menonton hiburan-hiburan yang kebanyakan sampah tersebut. Benar-benar sebuah pemborosan. Kira-kira dari dua puluh cerita yang saya tamatkan, hanya satu atau dua yang bisa benar-benar saya nikmati. Cerita-cerita itu ciri-cirinya adalah:

  1. Ada tantangan

    Bagaimanakah rasanya membaca cerita di mana si tokoh utama itu saking saktinya tidak ada yang bisa mengalahkan? Dalam cerita-cerita ala novel ringan Cina, saya sering mendapati bahwa si tokoh utama ini terlalu sakti. Musuh-musuhnya disingkirkan satu demi satu, tanpa ada perlawanan sama sekali. Ini seperti halnya anda punya sekotak jangkrik, dan anda mempretheli satu demi satu anggota tubuh setiap jangkriknya sampai mati. Sadis, dan tidak seru.

    Sementara di sisi yang ekstrem, ada cerita-cerita di mana si tokoh utama tidak mengalami hambatan berarti dalam hidupnya. Pokoknya begitu begitu saja dari awal sampai akhir. Saya heran kok cerita semacam ini ternyata banyak yang suka, tapi jelas yang seperti ini not my cup of tea.

  2. Gaya penuturan yang enak

    Enak itu memang relatif. Tapi, di antara yang saya suka adalah gaya penuturan “Love Designer” yang sedang-sedang saja. Bahkan aktingnya si pemeran utama pria menurut saya tepat sasaran. Atau, gaya penuturan ala Goblin dengan plot yang ketat, benar-benar seakan tidak ada adegan yang terbuang percuma. Masalahnya, saya masih kurang pintar membuat cerita dengan plot ketat ala Goblin. Saya selalu dikritik teman saya sebagai terburu-buru dan kurang jelas.

    Eh, tapi kita ini kan bicara soal cerita tertulis, bukannya film? OK, kalau begitu maka favorit saya adalah gaya penuturan semacam SH Mintardja. Atau Mira W. Maaf, sebagai orang yang bodoh secara sastra tapi suka menulis, saya tidak menikmati cerita-cerita Andrea Hirata, Eka Kurniawan, atau bahkan Tere Liye. Bahasa mereka terlalu indah untuk bisa saya nikmati dengan santai. Walaupun saya suka sama ceritanya Tere Liye yang apa itu? Yang temanya pokoknya mirip sama “A Christmas Carol”?

  3. Happy ending

    Hidup sudah susah, masa mau bikin cerita yang bikin susah pembaca? Iya, saya tahu beberapa cerita memang akan jadi lebih indah kalau dibuat sad ending, tapi pokoknya saya tidak mau. Saya membuat cerita dan membaca cerita untuk membuat diri saya bahagia. Lagipula, para tokoh protagonis sudah mengalami banyak tantangan dan cobaan sepanjang cerita, masa masih tetap harus berakhir tragis juga?

  4. Manusia-manusia biasa

    Jujur saya kurang suka dengan tokoh utama pria yang tidak jelas macam cerita-cerita “fall in love with CEO”. Mereka itu kurang manusia. Tidak jelas mereka itu wataknya seperti apa, yang penting terlalu berkuasa dan kalau sudah jatuh cinta pencemburunya minta ampun. Ada juga yang rada manusia semacam “Ji Cun Xi” di “Fated to Love You” atau si pangeran di “King 2 Hearts”. Paling tidak, mereka itu punya sisi lemah. Sehingga, sebenarnya saya juga kurang sreg sama karakter “Wang Yuyan” di “Demigods and Semidevils”. Kalo Xiaolongnu masih mending lah, walaupun menurut saya versinya Idy Chan masih terlalu baper dari seharusnya.

  5. Ada proses

    Kalau tokoh-tokoh utama tidak bertumbuh dan berproses, apa gunanya bercerita? Saya justru curiga kalau ada karakter yang tidak berproses setelah mengalami segala ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan, saya curiga kalau dia ini sebenarnya adalah seorang psikopat. Sudah dihempas badai yang menggoncang jiwa begitu rupa, tapi tetap bergeming. Mungkin itu karena dia tidak bisa merasakan apa-apa.

Genre-genre Favorit Saya

  1. Roman dan Rom-com

    Saya penggemar drakor, ya tentu saja ini harus ada. Salah satu favorit saya adalah “The Story of Us” yang ada Bruce Willis-nya. Yang lain tentu saja ya “Pretty Woman”. Saya kurang suka sama “You’ve Got Mail” dan “Sleepless in Seattle”. Dua cerita terakhir seperti kurang ada intinya. Begitu juga dengan “Love Actually”, walaupun di situ ada Hugh Grant. Kalau yang berbentuk tulisan, saya suka “Setelah Kau Menikahiku” karya “Novia Stephani”. Ini si ibu pengarang novel kasihan, novel legend-nya direupload ke mana-mana tanpa ada versi cetak yang beredar diketahui. Saya tidak tahu mengapa rom-com penggemarnya sedikit di novel tertulis. Mungkin karena main saya kurang jauh. Rata-rata novel adalah roman biasa. Kalau ada komedinya, biasanya rada-rada “kurang berisi”. Semacam tidak ada tantangan dan proses itu tadi.

  2. Fantasi

    Ya jelas dong, siapa orangnya yang tidak suka Harry Potter atau Lord of the Ring? Saya berhenti menonton Game of Thrones di episode pertama karena saya hampir muntah ketika menontonnya, maaf. Biasanya sih cerita fantasi ini epik dan bertema bildungsroman. Entah kenapa. Saya ingin sekali membuat cerita seperti ini, tapi, kok sepertinya usahanya bakalan besar sekali ya.

  3. Wuxia

    Ini jelas karena saya terpengaruh orang tua saya. Saya tumbuh di antara penggemar cerita-cerita Jin Yong. Orang tua saya cuma faham “Pendekar Memanah Rajawali”, “Pendekar Rajawali Sakti”, sama “Golok Pembunuh Naga”. Saya sendiri juga mengakrabkan diri dengan “Pendekar Hina Kelana” (Xiao Ao Jianghu) dan “Ode to Gallantry” (Xiá Kè Xíng). Tidak lupa, ada pula “Pendekar negeri Tayli” (Tiān Lóng Bā Bù). O ya, kalau orang Indonesia pasti sudah akrab dengan “Kisah Pangeran Menjangan”. Ini juga sama-sama cerita dari Jin Yong, tapi ketika saya menontonnya, saya terkejut dengan Wei Xiao Bao. Ternyata, karena memang cerita ini adalah dekonstruksi dari cerita-cerita Jin Yong sebelumnya. Mungkin, cerita ini adalah inspirasi dari cerita-cerita Jepang semacam “Mushoku Tensei”.

  4. Isekai

    Seingat saya, pertama kali saya menggemari cerita berjenis Isekai adalah ketika menonton cerita karangan Tong Hua, “Scarlet Heart”. Selanjutnya, ya ada banyak cerita lain yang semisal, kayak “Mushoku Tensei” itu tadi, atau “Go Back Couple” dan “Familiar Wife”. Saya membaca beberapa cerita Isekai yang lain yang bertema balas dendam, akan tetapi plotnya membuat saya muak. Selain karena tidak ada tantangan, kadang logikanya parah. Tetap tidak ada yang mengalahkan “Scarlet Heart”.

  5. Roman Sejarah

    Tentu saja, yang muncul di kepala saya adalah “Tutur Tinular”. Bahkan sebelum Genta Buana Pitaloka menayangkan serialnya, saya adalah pendengar setia sandiwara radionya. Tidak hanya itu, saya juga mendengarkan “Mahkota Mayangkara” dan “Kaca Benggala”. Dari sini kemudian saya tertarik dengan cerita sejarah Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, bahkan juga Malaka yang nun jauh di sana. Tau nggak, ternyata tadinya Malaka itu kumpulan bajak laut?

Gaya Tulisan Saya

Kalau orang Jawa bilang, “lagi ajar nulis wae nggaya”. Memang, kalau baru belajar menulis itu belum punya bentuk yang tetap, masih akan banyak berubah-ubah sesuai dengan proses belajarnya. Akan tetapi, saya punya idealisme yang dibentuk dari selera saya ketika menikmati suatu karya fiksi.

  1. Saya tidak mau mengarah ke “ndakik ndakik” istilahnya. Saya tidak akan bergelut dengan keindahan sastra mahatinggi. Saya hanya ingin menjadi penulis biasa yang menulis dengan cara yang biasa-biasa saja.
  2. Walaupun ini hobi, ketika nanti hobi saya ini dinikmati orang lain, saya ingin karya saya ini bermanfaat. Kalaupun tidak, tidak mengapa, yang penting bisa membuat orang lain bahagia tanpa harus mengotori jiwanya.
  3. Saya percaya bahwa kekuatan suatu cerita itu ada pada pengisahannya, bukan pada temanya atau genrenya. Karena itu, saya akan banyak memakai tema-tema usang, format-format yang kadaluwarsa, atau plot yang terlanjur digarap ribuan penulis sebelumnya. Saya tidak maniak sama originalitas.
  4. Saya suka cerita yang padat dan ringkas. Saya tidak suka penuturan yang bertele-tele dalam suatu cerita. Karena pada dasarnya saya adalah penikmat karya visual, saya juga lebih suka menuliskan cerita saya seolah-olah sedang menonton film. Terlalu banyak bahasa kalbu, kalau difilmkan, jadinya kan wagu. Di novel itu tidak masalah, tapi tetap saja saya tidak bisa lepas dari tempat mulai saya menikmati suatu cerita.

Kumpulan Manuskrip

Berikut adalah kumpulan draf dari cerita-cerita saya. Masih belum selesai semuanya, dan tidak tahu kapan bakal selesai.

  1. Cowok Alim Dipaksa Nikah Sama Artis

    Seorang pegawai IT bernama Ilham yang tiba-tiba harus berurusan dengan Lia, seorang artis pendatang baru yang hampir terkenal walaupun gak pinter-pinter banget akting. Walaupun baik hati dan tidak sombong, tetap saja kurang disukai oleh sutradara dan punggawa pembuat film lainnya. Dia hanya pernah membintangi satu sinetron, itupun rating-nya pas-pasan. Akhirnya sinetron dihentikan sebelum mencapai seratus episode, pertanda bahwa ketenaran Lia tidak bisa diperah habis oleh produser. Mujurnya, atau mungkin malangnya, dia justru kembali menarik perhatian berita ketika paparazzi memergokinya bersama Ilham.

    Sementara Ilham adalah mantan aktivis musholla yang tidak pernah bangga akan masa lalunya. Satu-satunya yang dia banggakan adalah keahlian dan kepintarannya, yang memang di atas rata-rata banyak rekan kerjanya. Hidupnya yang lurus-lurus saja berubah drastis ketika dia terpaksa harus menikah dengan Lia.

  2. Digampar Jadi Kaya

    Seorang pekerja IT bernama Ali merasa tidak puas dengan karirnya. Dia merasa dieksploitasi oleh atasannya dan pemilik perusahaan. Suatu ketika, seorang pria aneh tiba-tiba menggamparnya di sebuah warung kopi. Ketika terbangun, ia tiba-tiba menjadi Amir, seorang anak tunggal pemilik perusahaan elektronik Stereotron, produsen DVD dan Blu-Ray player terbesar di negeri ini.

  3. Penyihir Mirah Tanpa Tanding

    Seribu tahun setelah peperangan nuklir yang mengakibatkan musnahnya sebagian besar penduduk bumi dan terlupakannya teknologi, kelompok-kelompok manusia yang tersisa membentuk peradaban-peradaban baru. Di suatu daerah yang dulunya bernama Indonesia, berdirilah negara Sinar Merah yang kecil tapi makmur, kerajaan Nitisastra yang misterius, kekaisaran Kaki Langit yang akrab dengan jin dan siluman, serta Federasi Negara-negara Merdeka yang sejatinya adalah sekumpulan mafia yang saling berebut kekuasaan. Di antara negara-negara itu, tersebarlah kota-kota dan kampung-kampung yang masing-masing berdiri sendiri.

    Pahlawan kita yang bernama Bejo adalah anak seorang saudagar kecil di sebuah kota bernama Sukabuja. Suatu saat, perampok membunuh orang tuanya dan mengambil semua hartanya. Bejo menjadi sebatangkara, hidup hanya dengan mengandalkan belas kasihan orang lain, bahkan kadang tak segan mencuri. Suatu saat, Bejo bertemu dengan Sanjaya, seorang penyihir mirah berusia empat puluh tahunan. Dia bertekad mengikuti Sanjaya setelah melihat keajaiban yang dilakukannya. Para penyihir mirah hidup terasing dari manusia lainnya. Mereka tinggal di Pulau Matahari. Penduduk Pulau Matahari berasal dari sekelompok ilmuwan Muslim yang menyelamatkan diri dari peprangan nuklir dengan menggunakan sebuah satelit geostasioner mahabesar yang mengorbit bumi. Dimulailah petualangan Bejo di Pulau Matahari bersama Sanjaya.