<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <title>Guest Posts on jekjek tua nakal&#39;s Place</title>
        <link>https://jekjektuanakal.my.id/guest-posts/</link>
        <description>Recent content in Guest Posts on jekjek tua nakal&#39;s Place</description>
        <generator>Hugo -- gohugo.io</generator>
        <language>en</language>
        <lastBuildDate>Sun, 10 Jan 2021 00:00:00 +0000</lastBuildDate>
        
        <atom:link href="https://jekjektuanakal.my.id/guest-posts/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
        
        
        
        <item>
            <title>Belajar Agama Tidak Boleh Otodidak</title>
            <link>https://jekjektuanakal.my.id/guest-posts/belajar-agama-tidak-boleh-otodidak/</link>
            <pubDate>Sun, 10 Jan 2021 00:00:00 +0000</pubDate>
            
            <guid>https://jekjektuanakal.my.id/guest-posts/belajar-agama-tidak-boleh-otodidak/</guid>
            <description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Artikel asli ada di &lt;a href=&#34;https://alif.id/HEEs&#34;&gt;alif.id&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ldquo;Berhentilah membaca buku-buku karya Imam Ghozali.&amp;rdquo;&lt;br /&gt;
Begitulah nasihat dari salah seorang Ustad saat saya mengeluhkan kegalauan hati.&lt;br /&gt;
&amp;ldquo;Jiwamu belum sanggup menerimanya. Mencernanya.&amp;rdquo;&lt;br /&gt;
Begitulah kurang lebih kelanjutannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Memang, sejak saat itu saya berhenti membaca buku karya ulama tasawuf tersebut. Namun pengaruh yang kadung melekat di jiwa, tak begitu saja sirna. Alhasil, saya beragama dengan rasa kuatir luar biasa, dibayang-bayangi siksa neraka.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam beragama, harus ada keseimbangan antara roja&amp;rsquo; dan khouf. Antara harap dan cemas. Antara rasa optimis bahwa Sang Maha Pencipta maha pengasih penyayang, dibarengi kesadaran bahwa Dia adalah yang Maha keras siksaannya.&lt;br /&gt;
Ketidakseimbangan antara roja&amp;rsquo; dan khouf bisa mengakibatkan sikap njomplang. Terlalu optimis cenderung lalai, terlalu takut akan membuat hidup dicekam paranoia. Serba kuatir, pun dirundung perasaan ngeri. Lupa, bahwa sifat-Nya yang rahman dan rahim disebut dua kali dalam surat al fatihah. Ummul kitab yang dibaca minimal 17 kali dalam sehari semalam seorang muslim. Melupakan rahman dan rahim-Nya, membuat seseorang ketakutan berlebihan terhadap ancaman siksa api neraka. Jangankan meninggalkan amalan wajib, tertinggal dalam amalan sunnah pun, rasa bersalah mendera. Itulah saya. Dulu.&lt;/p&gt;</description>
        </item>
        
        
        
        <item>
            <title>Jiwa yang Dirindukan Surga</title>
            <link>https://jekjektuanakal.my.id/guest-posts/jiwa-yang-dirindukan-surga/</link>
            <pubDate>Sat, 09 Jan 2021 00:00:00 +0000</pubDate>
            
            <guid>https://jekjektuanakal.my.id/guest-posts/jiwa-yang-dirindukan-surga/</guid>
            <description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah Admin WAG Kalam Santri Halqimuna (Himpunan Alumni Komplek Q PP Al Munawwir Krapyak Yogyakarta). Tinggal di Gringsing Batang.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dengarkanlah surga memanggil:&lt;br /&gt;
Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji&amp;rsquo;ii ilaa robbiki raadhiyatan mardhiyyah. Fadkhulii fii &amp;lsquo;ibadii. Wadkhulii jannatii. (QS. Al Fajr 27-30)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Nafsul muthmainnah. Jiwa yang tenang. Pemilik jiwa yang tenang dipanggil mesra oleh Pemilik surga.&lt;br /&gt;
Jiwa yang tenang. Itulah tujuan manusia dalam beragama, seharusnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Suatu hari saya membaca curhat seorang sahabat yang memutuskan untuk melepas jilbab. Wallnya di facebook segera penuh dengan peringatan, ancaman bahkan caci maki. Caci maki menggunakan ayat suci.&lt;br /&gt;
Ada pula seseorang yang tidak hanya melepas jilbab namun sekaligus memutuskan untuk menggunakan kemben sebagai pakaian sehari-hari. Caci maki yang ditujukan kepadanya lebih menggiriskan hati. Caci maki menggunakan ayat-ayat suci. Lagi-lagi. Sungguh ngeri.&lt;/p&gt;</description>
        </item>
        
        
        
        <item>
            <title>Islam Rahmatan Lil &#39;Alamin, yang Seperti Apa?</title>
            <link>https://jekjektuanakal.my.id/guest-posts/islam-rahmatan-lil-alamin/</link>
            <pubDate>Fri, 08 Jan 2021 00:00:00 +0000</pubDate>
            
            <guid>https://jekjektuanakal.my.id/guest-posts/islam-rahmatan-lil-alamin/</guid>
            <description>&lt;p&gt;Suatu hari di WAG alumni sekolah, seorang teman bercerita bahwa dia suka mendengarkan ceramahnya Gus Baha. Lain waktu dia kembali bercerita bahwa dia pun suka mendengarkan ceramah KH. Zainuddin MZ dan Kyai Supandi dari Semarang. Teman tersebut bukan seorang muslim.&lt;br /&gt;
Masya Allah.&lt;br /&gt;
Begitulah sebuah kebenaran universal. Bisa diterima oleh banyak kalangan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di hari yang lain, seorang teman Nasrani curhat, kenapa umat Islam sekarang&amp;ndash;menurutnya&amp;ndash;galak. Sedikit-sedikit mengharamkan.&lt;br /&gt;
&amp;ldquo;Udah nggak papa aku nggak dikasih ucapan selamat natal, tapi nggak usahlah segala macam diharamkam. Pramuniaga pakai baju Santa Claus di mall itu kan aspek marketing aja.&amp;rdquo; Begitulah ungkapan hatinya. Dia sebagai kelompok minoritas merasa tidak nyaman. Dia mengungkapkan rasa tidak nyaman juga saat ada orang yang berpindah keyakinan alias ganti agama kemudian sibuk menjelekkan ajaran agama lama, yang disambut suka cita oleh para pemeluk agama baru.&lt;br /&gt;
Budayawan Prie GS juga pernah menulis dalam kolomnya tentang keprihatinan atas khotbah yang mengunggulkan kemuliaan ajaran Islam sembari merendahkan agama lain, padahal di lingkungan masjid banyak pemeluk agama selain Islam. Tentunya hal tersebut akan melukai perasaan mereka.&lt;/p&gt;</description>
        </item>
        
        
    </channel>
</rss>