Islam Rahmatan Lil 'Alamin, yang Seperti Apa?
Suatu hari di WAG alumni sekolah, seorang teman bercerita bahwa dia suka mendengarkan ceramahnya Gus Baha. Lain waktu dia kembali bercerita bahwa dia pun suka mendengarkan ceramah KH. Zainuddin MZ dan Kyai Supandi dari Semarang. Teman tersebut bukan seorang muslim.
Masya Allah.
Begitulah sebuah kebenaran universal. Bisa diterima oleh banyak kalangan.
Di hari yang lain, seorang teman Nasrani curhat, kenapa umat Islam sekarang–menurutnya–galak. Sedikit-sedikit mengharamkan.
“Udah nggak papa aku nggak dikasih ucapan selamat natal, tapi nggak usahlah segala macam diharamkam. Pramuniaga pakai baju Santa Claus di mall itu kan aspek marketing aja.” Begitulah ungkapan hatinya. Dia sebagai kelompok minoritas merasa tidak nyaman. Dia mengungkapkan rasa tidak nyaman juga saat ada orang yang berpindah keyakinan alias ganti agama kemudian sibuk menjelekkan ajaran agama lama, yang disambut suka cita oleh para pemeluk agama baru.
Budayawan Prie GS juga pernah menulis dalam kolomnya tentang keprihatinan atas khotbah yang mengunggulkan kemuliaan ajaran Islam sembari merendahkan agama lain, padahal di lingkungan masjid banyak pemeluk agama selain Islam. Tentunya hal tersebut akan melukai perasaan mereka.
Mari kita melihat bagaimana Rasulullah memperlakukan orang yang tidak beragama Islam. Yang pertama adalah paman Beliau, yang mengasuh sejak usia 8 tahun. Abu Thalib. Adakah kisah tentang ucapan atau perilaku Baginda Nabi yang melukai hati sang paman?
Jangankan kepada yang menyayangi sepenuh hati. Bahkan kepada Abu Jahal dan Abu Lahab yang jelas-jelas menyakiti pun Rasulullah tetap menunjukkan akhlak mulia. Karena risalah yang dibawanya adalah risalah cinta, untuk memperbaiki akhlak manusia. Mungkinkah akhlak manusia bisa diubah oleh hati yang diselimuti benci?
Islam rahmatan lil ‘alamin adalah Islam yang ramah. Yang diyakini di hati sebagai penentram sejati. Jiwa yang damai dan bahagia tidak akan menebarkan benih kebencian pada siapa pun.
Maka Rasulullah memberikan teladan. Tidak pernah melontarkan kebencian pada orang Yahudi, Nasrani maupun para penyembah berhala. Baginda Nabi mengajak kaumnya dengan penuh rasa cinta. Cinta yang mendalam pada umat hingga umatlah yang Beliau sebut saat hendak wafat.
Islam rahmatan lil ‘alamin hanya bisa dirasakan dan disebarkan oleh jiwa yang penuh cinta. Cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Cinta itu menjadi cahaya dan penentram jiwa bagi yang memilikinya. Cinta itu begitu limpah sehingga tidak pudar oleh penolakan dan hinaan. Cinta itu juga tidak akan ternodai oleh beragam perbedaan.
Islam yang rahmatan lil ‘alamin adalah Islam yang membawa sakinah dalam hidup ini. Keindahan dalam beriman pada Allah dan Rasul-Nya memberikan motivasi untuk mengajak sebanyak mungkin orang merasakan keindahan yang sama. Maka Rasulullah mendoakan agar Umar bin Khattab masuk Islam. Maka Rasulullah menawarkan Islam kepada sahabat-sahabat yang disayanginya.
Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin manakala hati kita merasa tercurahi rahmat karunia-Nya dalam ber-Islam. Tidak merasakan ajaran agama sebagai belenggu atau beban, sehingga ada kecenderungan ingin membelenggu orang lain.
Wallaahu a’lam.