Jiwa yang Dirindukan Surga
Penulis adalah Admin WAG Kalam Santri Halqimuna (Himpunan Alumni Komplek Q PP Al Munawwir Krapyak Yogyakarta). Tinggal di Gringsing Batang.
Dengarkanlah surga memanggil:
Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji’ii ilaa robbiki raadhiyatan mardhiyyah. Fadkhulii fii ‘ibadii. Wadkhulii jannatii. (QS. Al Fajr 27-30)
Nafsul muthmainnah. Jiwa yang tenang. Pemilik jiwa yang tenang dipanggil mesra oleh Pemilik surga.
Jiwa yang tenang. Itulah tujuan manusia dalam beragama, seharusnya.
Suatu hari saya membaca curhat seorang sahabat yang memutuskan untuk melepas jilbab. Wallnya di facebook segera penuh dengan peringatan, ancaman bahkan caci maki. Caci maki menggunakan ayat suci.
Ada pula seseorang yang tidak hanya melepas jilbab namun sekaligus memutuskan untuk menggunakan kemben sebagai pakaian sehari-hari. Caci maki yang ditujukan kepadanya lebih menggiriskan hati. Caci maki menggunakan ayat-ayat suci. Lagi-lagi. Sungguh ngeri.
Saya pernah juga membaca lontaran sinis juga ungkapan cemooh pada pengikut Syiah, pada pelaku LGBT, penganut Ahmadiah, dan lain-lain yang dianggap perbuatan dosa besar alias kesalahan fatal.
Rasulullah adalah teladan utama atas segala. Maka mari berkaca pada tindak tanduk Beliau dalam menghadapi pendosa.
Pendosa itu bernama Abdullah bin Saba’ bin Ubay bin Salul. Gembong kaum munafik yang seumur hidupnya dihabiskan untuk melakukan teror terhadap dakwah Rasulullah. Menggunting dalam lipatan. Bukan saja melancarkan fitnah dan mengadu domba, dia juga yang mendalangi tipu muslihat pembunuhan banyak sahabat. Mendirikan masjid tandingan untuk memecah belah umat pula.
Bagaimana Rasulullah menghadapi orang semacam ini?
Kala gembong munafik ini sakit, Rasulullah menjenguknya. Baginda Nabi meluluskan permintaannya untuk menyelimutkan jubah Beliau ke tubuh Abdullah bin Ubay. Saat akhirnya meninggal, Rasulullah memimpin sholat jenazah untuknya. Ketika Allah berfirman bahwa mensholatkan jenazah dan memohonkan ampun untuk seorang munafik 70 kali pun sia-sia belaka, maka Rasulullah berkeinginan mendoakan lebih dari 70 kali.
Masya Allah.
Shollu ‘alan nabiiy Muhammad.
Demikianlah jiwa yang tenang senantiasa memancarkan cinta. Tiada kebencian setetes pun pada sesiapa, hatta pada pendosa yang kesalahannya serupa seisi dunia.
Jiwa yang tenang dicontohkan Rasulullah secara tuntas paripurna. Menghadapi para pendosa, Rasulullah bukan melontarkan benci melainkan iba. Karena para pendosa akan berakhir di neraka. Maka sampai bengkak kaki Beliau dalam menegakkan qiyamul lail demi memintakan ampun atas dosa-dosa umatnya. Rasulullah sendiri ma’shum, terpelihara dari perilaku nista penimbul dosa. Maka, istighfar Beliau minimal 100 kali sehari itu tentulah untuk memohon kemurahan Sang Maha Rahman Rahim agar umatnya tak tersentuh api neraka. Nyala api neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia.
Rasulullah tak pernah melontarkan laknat dan caci maki. Sama sekali. Karena dalam jiwa tenang Baginda Nabi hanya ada kasih sayang dan cinta.
Hari ini, ketika berkali-kali terjadi adu domba terkait agama di sosial media, ada yang patut kita renungkan dalam-dalam terkait cara kita berperilaku dan merasa. Siapakah yang sejatinya menjadi anutan hati dalam hidup sehari-hari? Meski banyak analisis bahwa adu domba dilakukan oleh buzzer, tetaplah kita harus merasa prihatin atas mudah diadu dombanya umat manusia yang sama-sama bersyahadat mempersaksikan Baginda Nabi Muhammad sebagai Rasul- Nya.
Mari teliti hati sendiri, adakah noktah benci di sana.
Semoga kita selalu berjuang agar bisa meneladani Rasulullah yang mulia. Yang dalam hati Beliau tiada noktah benci sama sekali, pada siapa pun. Semoga kita semua dimampukan-Nya untuk memiliki jiwa yang tenang penuh cinta dan kasih sayang, sehingga kelak Sang Maha Pemilik surga berkenan memanggil kita masuk ke dalamnya. Aamiin.