Merawat Teladan Darussalam

Saya mengenal pertama kali frase "Teladan Darussalam" dari sebuah buklet kecil berwarna biru muda, dengan desain lucu oleh pengarangnya sendiri. Entah masih ada atau tidak buku itu. Pengarangnya adalah rekan sebangku saya di klas dua, di pojok kanan belakang. Core memory kami adalah kami sering tidur waktu pelajaran. Frase itu memang catchy, walaupun saya sudah tak ingat lagi isinya. Seingat saya, isinya senada dengan peta jalan mewujudkan masyarakat Islami di lingkup almamater kami.

Tidak Mencontek

"Tidak Mencontek" adalah sebuah ungkapan yang kini saya sadari menjadi sejarah dan bagian identitas saya. Eyang saya adalah masinis yang jujur, yang memarahi ayah saya ketika ayah saya membeli buah dan dia mengambil lebih banyak dari seharusnya. Waktu itu, ayah saya disuruh kembali ke pasar, yang jaraknya belasan bahkan puluhan kilometer, untuk mengembalikan apa yang telah diambilnya. Ayah saya adalah seorang pegawai kontraktor jalan dan bangunan, yang tidak mau memperkaya diri di luar dari yang seharusnya, walau teman-temannya hampir semuanya memiliki rumah bertingkat. Saya di masa SMA, hanya bisa menerjemahkan warisan keluarga saya ke dalam sebuah tindakan, tidak mencontek. Tapi, saya juga punya bakat yang mendukungnya. Prefrontal cortex saya agak beda dengan orang kebanyakan, sehingga saya punya kemampuan executive function yang rendah sekaligus susah bohong. Tapi, pas saya SMA mana tahu begituan? Tahunya, para pengurus ROHIS mencontek, saya tidak. Cukuplah untuk mempertahankan ego dan menjaga eksistensi diri seorang remaja.

Terjebak di Masa Lalu

Masa SMA juga menjadi masa di mana identitas saya terbentuk. Hingga hari ini, yang ada di benak saya, saya adalah Jaya di masa SMA, cuma lebih tua, punya isteri dan punya anak. Hingga kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Saya shock ketika salah seorang teman masa remaja saya berubah drastis, seperti orang tua. Menjaga wibawa, berbicara dengan nada sopan yang membentuk dinding di antara kami, dan tersinggung ketika merasa tidak dihormati. Itulah alasan utama saya malas menghubungi teman-teman SMA saya. Saya terjebak di masa lalu, sementara saya mereka sudah beranjak ke dunia mereka masing-masing. Saya takut, niat hati ingin bersilaturahim, berubah menjadi ajang mencari validasi. Syawalan yang harusnya merayakan kemenangan dari ego, menjadi bebasnya ego selepas Ramadhan.

Masih Teladan Darussalam

Sampai akhirnya saya sadar. Teladan Darussalam yang membentuk saya menjadi seperti sekarang. Teladan Darussalam adalah saya. Saya ingin kenangan masa muda menjadi tali yang mengingatkan kita, bahwa kita pernah punya mimpi yang sama. Tanpa ada kita yang dulu, tidak ada kita yang sekarang. Saya ingin bertemu teman-teman lama, juga kakak-kakak angkatan yang sekarang entah di mana. Dalam hati saya berterima kasih kepada mereka, tanpa dakwah mereka saya tidak akan sampai di sini. Saya ingin bilang kepada mereka, dakwah mereka dengan segala kesalahan-kesalahan khas anak remaja, ibarat menebar bibit. Kalian tidak akan pernah menduga sebesar apa pohonnya dan semanis apa buahnya.

Salih itu Rejeki

Saya memang tidak merasa berubah. Tapi, tahukah kalian perbedaan besar apa yang saya rasakan antara sekarang dan ketika SMA? Pembuktian diri. Ketika kita SMA, kita banyak teori tentang beriman dan beramal Menginjak empat puluhan, saya merasa membuktikan iman dan amal itu sangat berat. Saya tahu satu hal, saya tidak mampu lagi menghakimi saudara-saudara kita yang sedang mendapat ujian. Selalu saya bilang, ditawari gaji dua kali lipat untuk pekerjaan yang syubhat saja membuat saya panas dingin berminggu-minggu. Baru dapat THR saja sudah bikin saya ribut sama istri mau dibelanjakan apa. Setiap orang punya perjalanannya masing-masing, wujud kepedulian kita hanyalah mendoakan dan mengingatkan. Kesalihan yang kita lakukan, perlu kita tampakkan, bukan untuk ditinggikan di atas kelemahan orang lain, tapi jadi pengingat supaya saudara-saudara kita bisa kembali. Bisa berbuat salih itu rejeki.

Think Globally, Act Locally

Pada akhirnya, kemampuan setiap orang itu terbatas. Saya yang pada dasarnya ansos, akhirnya tidak kemana-mana. Yang penting kerja, niat ibadah mudah-mudahan halal, mendidik anak semampunya, sambil tetap menjaga ibadah-ibadah wajib. Saya senang melihat beberapa teman lain bisa memberikan manfaat pada umat. Saya tidak bangga dengan apa yang saya capai, namun juga tidak minder. Karena, setiap orang punya peran dan bebannya masing-masing. Saya juga tidak minta peran lebih besar, karena peran kecil saja berat untuk dijalani.

Menumbuhkan Pohon Iman, Islam, dan Ihsan

Tentu saja ada bedanya cara beriman saya sekarang dan dua puluh tahun yang lalu. Dulu saya tidak faham aswaja, alias Ahlus Sunnah Wal Jamaah, alias Sunni. Dulu saya tidak faham siapa Rashid Ridha dan Muhammad Abduh, walaupun berislam dengan cara yang kira-kira mengikuti mereka. Dulu, saya memahami asal kelihatan ilmiah, itu Islam. Sekarang, rada dipoles sedikit. Sekarang, saya memahami Islam dengan trilogi epistemologi al 'iyan, akhbar, dan nazhar Selain dipakai untuk memahami iman dan tauhid, ternyata berguna juga untuk memahami apapun di dunia ini. Sekarang, saya tidak berani menyalahkan amalan orang lain, apalagi menyalahkan ulama. Sekarang, saya percaya bahwa kecerdasan hati itu ada dan penting untuk selalu menumbuhkannya. Kok spesifik banget? Ya tidak apa-apa, namanya juga perjalanan. Setiap orang memiliki perjalanan dan pengalamannya masing-masing. Sangat wajar mereka memiliki perspektif kebenarannya sendiri-sendiri. Cuma, ya saya tidak akan banyak dekat-dekat dengan orang yang memutlakkan kebenaran. Tidak enak dijadikan teman dan diajak ngobrol. Karena, debat bagi saya bukan lagi soal siapa yang benar. Saya lebih tertarik untuk menjalani dan menikmati alur debatnya, apapun judulnya. Karena epistemologi itu tadi. Mau debat soal apa? Hilal misalnya? Ayok.

Mewariskan Nilai-nilai Darussalam

Kalau melihat apa yang paling penting dari Islam, ya tentu saja tauhid. Tapi, anak saya yang besar belum tertarik diajak diskusi soal Tasalsul, wajibul wujud, ataupun mukhalafatu lil hawadits. Apalagi ngomong soal occasionalism, Godel, atau bahkan Hilbert’s Hotel. Saya agak sedih, tapi mudah-mudahan suatu saat dia faham kajian-kajiannya Syaikh Hamza Karamali. Selain itu, nggak ada lagi. Saya bukan ayah yang ideal, paling pol cuma bisa ngasih contoh dan marah-marah kalau mereka salah. Jangan dikira contoh itu tidak ada artinya. Suatu saat anak saya ditanya isteri saya, mengapa nilai pelajaran TIK dia ada di lima terbawah. Anak saya menjawab, karena teman-temannya yang lain mencontek, sedangkan dia tidak. Walaupun kami tidak terima alasan dia (nggak papa, biar dia kenal kerja keras), paling tidak saya sedikit lega minimal dia punya orientasi nilai yang benar.

Meneruskan Perjalanan

Bagi saya, "Teladan Darussalam" adalah fase di mana saya menemukan diri saya. Masing-masing dari kita yang pernah dekat dalam bingkainya, tentu masih terkenang dengan keindahannya. Karena waktu itu mimpi kita dibangun, dan pribadi kita mulai menemukan bentuknya, dan belum ada tanggung jawab membebaninya. Setiap diri kita memiliki kekurangan masing-masing. Setiap diri kita memiliki ujian masing-masing. Mudah-mudahan, dengan mengingat "Teladan Darussalam" di bulan Syawal, kita bisa membersihkan diri kita, menghadapi ujian-ujian kita dengan berani, dan menang bersama-sama di ujung nanti.